Kamis, 25 Juli 2024

 

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR

Posted on Agustus 26, 2012 by arsyadindradi

Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.

I. Nilai Sosial Budaya

Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.

Masyarakat Banjar seperti masyarakat Banjarmasin, Nagara dan Martapura yang juga sebagai pengrajin kamasan ( tukang perhiasan ) bahan emas, suasa dan perak. Hasil kerajinan itu berupa : Giwang (anying-anting) seperti bonel ros barumbai, bonel air tetes, bonel air tetes barumbai dan lain-lain. Galang ( gelang ) tangan seperti galang baintan, galang rantai, galang rantai sulapit dan lain-lain. Galang batis ( kaki ) seperti galang batis buntut cacing, galang batis malati, galang wancuh.Utas (cincin) seperti utas balah paikat, utas mata satu asur wawaluhan, utas mata satu bagimus (polos), utas mata satu tusuk, utas ros parimata intan, utas rantai, utas baserong dan lain – lain. Kakalung seperti kakalung rantai sulapit, kakalung madaliun barumbai, madaliun ros, madaliun mata tiga, madalin mata satu dan lain-lain. Cucuk baju seperti cucuk baju seribu manis, cucuk baju paniti, cucuk baju daun basontek, cucuk baju daun baintan dan lain – lain. Cucuk konde seperti cucuk konde kulipak katu, cucuk konde daun talu, daun lima, cucuk konde daun seribu manis, cucuk konde ros, cucuk konde daun baintan dan lain-lain

Ada hasil kerajinan dari bahan kuningan seperti pakucuran/peludahan, sasanggan panginangan, celengan dan lain-lain. Ada hasil kerajinan tembikar seperti dapur, kapit, tajau halus dan besar, cocot ( sejenis ciret/teko ) dan lain – lain.

Ukir dan tatah seperti dalam bentuk tatah surut (ukiran berupa relief); tatah babuku (ukiran dalam bentuk tiga dimensi), tatah baluang (ukiran “bakurawang”) dan lain – lain.

Nilai Sosial Budaya yang menjadi tempat – tempat objek wisata, di Tanah Banjar banyak jumlahnya di antaranya Pasar Terapung, pendulangan intan dan keindahan alam seperti Pulau Kambang, Gua Liang Hidangan, tempat keramat dan lain – lain.

Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi sosial budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi jual beli bahkan ada yang berupa barter di atas air dengan menggunakan jukung ( sampan ) yang berdatangan dari berbagai pelosok, membawa dagangan berupa lalapan ( sayur – sayuran ), buah – buahan, pancarakinan ( rempah masakan dan belah pecah ) juga makanan dan minuman. Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 07.00 setiap hari. Pasar terapung ini ada dua lokasi yaitu di Kuin wilayah Banjarmasin dan Lok Baintan wilayah Kabupaten Banjar.

Seperti juga di daerah lain, Kalimantan Selatan memikili tradisi budaya dan seni b

Tradisi Budaya yang kental dalam masyarakat Banjar seperti upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, baayun anak, mamalas banua/manyanggar banua, aruh ganal, badudus dan lain – lain.

Di sini akan “ditingau sakilaran “ mengenai tradisi baayun anak dan badudus.

a. Baayun Anak

Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.

Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.

Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.

Ayun Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.

Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.

 

Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SA

Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).

Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.

Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.

2) Badudus

Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai adat budayanya masing- masing, ada yang berbeda dan ada juga hampir sama. Dalam kesempatan ini diperkenalkan adat yang ada di suku Banjar yang mendiami Tanah Borneo bagian selatan yakni Kalimantan Selatan, yaitu Acara Badudus.

Badudus adalah acara mandi – mandi.. Acara ini ada tiga jenis, yaitu Badudus Tian Mandaring, Badudus Pengantin Banjar, dan Badudus untuk Keselamatan.

a) Badudus Tian Mandarin

Acara Badudus Tian Mandaring adalah acara Mandi – Mandi perempuan hamil pertama kali yang usia hamilnya Tujuh Bulan. Sesaji yang diadakan berupa kue – kue yang jumlahnya 41 macam. Minyak Likat Buburih adalah sebagai bahan Tapung Tawar. Air yang dimandikan berupa air yang berendam beraneka bunga sehingga air ini beraroma harum.

b) Badusus Selamatan Tahunan

Acara Badudus merupakan tradisi masyarakat Banjar terutama sebagian masyarakat Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara. Acara ini diadakan dua kali setahun yaitu acara Mandi-Mandi dilaksanakan pada pertengahan tahun Hijrah yaitu sekitar bulan Jamadil Akhir dan Selamatan Tahunan diadakan pada awal tahun Hijrah yaitu bulan Muharram . Masyarakat Amuntai sangat tebal kepercayaannya terhadap Legenda Lambung Mangkurat, bahwa raja-raja Negara Dipa seperti Empu Jalmika, Pangeran Suryanata, Pangeran Suryaganggawangsa dan lain-lainnya itu sampai sekarang masih hidup dan berada di alam gaib dan sewaktu-waktu mereka dapat diundang. Kepercayaan ini dianut secara turun temurun dan jika tidak dilaksanakan maka mengakibatkan malapetaka bagi keluarga mereka misalnya ada yang kurang waras atau kena penyakit.

Sesaji yang harus diadakan adalah 41 macam kue dan yang tidak boleh ketinggalan yaitu “ Bubur Habang Bubur Putih “, “ Kopi Pahit “, Cingkaruk Batu “, “ Rokok Jagung “, dan “ Minyak Likat Buburih “.

Serangkaian acara Badudus Selamatan Tahunan ini diadaakan lagu-lagu Badudus yang diiringi tetabuhan yang terdiri dari biola dan Tarbang Besar atau Tarbang Burdah. Ada beberapa repertoire dalam acara ini yang susunannya tidak boleh tertukar, yaitu :

Repertoire pembukaan adalah lagu Kur Sumangat, merupakan lagu mengundang roh – roh dari raja-raja yang gaib di tengah kepulan asap dupa dan kemenyan. Isi lagu adalah undangan dan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan terdapat kekeliruan dan sebagainya.selesai lagu ini, diadakan acara Tapung Tawar yang disebut Tatungkal dengan memercikkan minyak Likat Buburih d atas kepala pada yang dimandikan dan pada keluarga. Repertoire yang kedua Lagu Girang – Girang, pernyataan kegembiraan. Repertoire yang ketiga adalah lagu Mandung Mas Mirah, lagu untuk menyambut puteri – puteri yang diundang. Repertoire yang keempat Lagu Dundang Sayang, berfungsi sebagai penghibur pada para undangan yang hadir. Repertoire yang kelima adalah Lagu Tarabang Burung, lagu menyambut atau menyongsong para roh – roh yang datang. Repertoire yang terakhir yaitu Lagu Burung Mantuk, l;agu untuk menghantarkan pulang para roh – roh yang telah menghadiri upacara tersebut.

Tidak jarang dalam upacara Badudus ini banyak orang – orang yang hadir kesurupan. Setelah selesai Lagu Burung Mantuk dinyanyikan yang kesurupan tersebut sadar kembali. Fungsi penyanyi terkadang adalah juga sebagai pawang dan berperan sebagai pemimpin acara.

c) Badudus Pengantin Banjar

Acara Badudus Pengantin Banjar adalah suatu acara adat masyarakat Banjar yang sampai sekarang ini masih tumbuh dan hidup dalam masyarakat Banjar. Tempo dulu Badudus merupakan acara penobatan seorang Raja. Acara ini hanya diselenggarakan oleh keturunan raja – raja saja yakni keturunan dari raja – raja Kerajaan Negara Dipa dan Kerajaan Daha, dan yang dapat menghadiri acara tersebut adalah hanya terbatas kepada seluruh keluarga saja. Setelah tidak ada lagi kerajaan di Tanah Banjar (tahun 1860 ) maka acara ini bergeser menjadi acara mandi – mandi Pengantin Banjar. Penyelenggaraan Badudus dilaksanakan oleh kedua pengantin. Dalam acara ini disediakan sesaji 41 macam kue dan minyak likat buburih yaitu bunga – bungaan yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin serta ditambah dengan minyak wangi. Acara badudus ini umumnya dimeriahkan dengan menyuguhkan lagu – lagu Banjar.

Sungguh, nilai – nilai Seni Budaya Nasional sangatlah “ Sugih (kaya) “ karena berakar dan bersumber dari nilai – nilai Seni Budaya Daerah. Salah satunya adalah dari Tanah Banjar.

II. Nilai Seni Budaya Tanah Banjar tersebut antara lain adalah musik, tari, sastra dan teater.

1) Seni Musik

Seni Musik Tanah Banjar terdiri dari gamelan Banjar dan musik tradisional Banjar.

a) Gamelan Banjar

Gamelan Banjar ini dahulunya hidup dan berkembang di keraton Banjar, namun sekarang ini tidak ada lagi keraton Banjar maka musik ini hidup di kalangan rakyat Banjar. Gamelan Banjar umumnya sebagai pengiring tarian seperti wayang gong, wayang kulit dan tarian klasik Banjar.

Perangkat gamelan Banjar yang paling tua adalah sepasang gamelan Banjar yang bernama “ Simanggu Kacil dan Simanggu Basar “. Gamelan Simanggu Kacil berada di Museum Nasional Jakarta sedang Simanggu Basar berada di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan.

b) Musik Trasional Banjar di antaranya adalah Musik Kentung dan Musik Panting.

Musik Kentung ( instrument bamboo) ini berasal dari daerah Kabupaten Banjar yaitu di desa Sungai Alat Kecamatan Astambul dan kampung Bincau Kecamatan Martapura. Masa dahulu alat musik ini dipertandingkan. Dalam pertandingan ini bukan saja pada bunyinya, tetapi juga hal-hal yang bersifat magis, seperti kalau dalam pertandingan itu alat musik ini bisa pecah atau tidak dapat berbunyi dari kepunyaan lawan bertanding.

Musik kentung termasuk alat musik pentatonis, boleh dikatakan pula sejenis alat musik perkusi. Karena cara membunyikannya dihentakkan pada sebuah potongan kayu yang bundar. Alat musik kentung ini berjumlah 7 buah dan masing-masing mempunyai nama, yaitu : Hintalu randah, hintalu tinggi, tinti pajak,tinti gorok,pindua randah, pindua tinggi dan gorok tuha.

Musik Panding adalah seperangkat alat musik yang terdiri dari : Babun (gendang), Gong, Biola, suling dan Panting. Panting ini bentuknya seperti gitar atau gambus tapi bentuknya agak kecil. Musik Panting umumnya untuk mengiringi lagu – lagu Banjar.

2) Seni Tari Banjar.

Seni Tari Banjar ada beberapa jenis yakni Tari Kelasik Banjar seperti Tari Baksa Kembang, Baksa Panah, Baksa Lilin, Baksa Dadap, Baksa Tameng, Radap Rahayu, Tari Topeng Panji, Tari Topeng Sekartaji, Tari Topeng Kelana dan lain – lain. Tari Tradisional (rakyat) seperti Tari Tirik kuala, Tirik Lalan, Tari Japin Kuala, Japin Sisit, Tari Kuda Gepang dan Tari Wayang Gong. Tari Kreasi Baru seperti Mandulang Intan, Tari Semangat Ratu Zaleh, Maiwak, Ambung Gunung dan lain – lain. Tari Pedalaman adalah tarian yang ada di daerah pedalaman Kalimantan Selatan ( suku Bukit ) seperti Tari Giring-Giring, Tari Gelang Bawu, Tari Gintur dan lain – lain

3) Seni Sastra

Seni Sastra di Tanah Banjar ada dua bagian yaitu Sastra Tutur dan Sastra Non Tutur ( tertulis ).

1) Sastra Tutur seperti Bakisah, Lamut, Madihin dan Mantra.

A) Bakisah

Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya.

Banyak sari toladan dari ”kisah” baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana.

Bakisah ada beberapa macam yakni Bapandung, Dundam, Lamut, Andi-Andi, Madihin dan Mantra.

a)Bapandung

Bapandung lahir di Desa Muara Munign kabupaten Tapin. Tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita, dimainkan dengan menirukan suara, tingkah laku seseorang, dan sebagainya.

b)Dundam

Bakisah dengan prosa lirik, berpantun-pantun. Lagunya lebih dekat dengan lagu mantra. Cerita adalah tokoh legenda orang Dayak (Bukit) dalam suatu kelompok. Ada hubungan cerita dengan etnis Banjar atau dengan kerajaan Banjar. Berdundam berada di suatu tempat yang berlampu remang-remang. Media untuk bercerita adalah sebuah gendang atau tarbang.yang dipukul berirama mengiring lagu pendundam bercerita.

c)Lamut

Ada yang mengatakan bahwa lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang.Cerita dalam Lamut menurut pakem yang ada walau tak tertulis. Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala dengan pengikut setianya paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta.

 

Lamut befungsi sebagai upacara pengobatan anak yang sakit, bisa juga berfungsi sebagai tontonan masyarakat. Pelamutan duduk berila dengan memegang sebuah gendang budar yang dikenal dengan nama tarbang. Pelamut berbaju Taluk balanga ( Koko ) memakai sarung palekat, berkopiah hitam. Penonton duduk santai lesehan.

d)Andi-Andi

Berkisah tentang legenda, dongeng dan sebagainya disaat orang brgotong royong, mengetam padi di sawah. Fungsinya menghibur orang bekerja. Ceritanya dari syair-syair, tutur candi,dan dongengan.

e) Madihin

Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji – pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan oleh Pamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Hand Proferti yang digunakan adalah tarbang yang bentuknya lebih kecil dari Tarbang Lamut.

f) Mantra

Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.

 

2) Sastra Non Tutur ( Tertulis )

Sastra Tertulis ini ada yang dinamakan Syair, Gurindam, Pantun dan Puisi ( Sajak ).

A) Syair

Salah satu bentuk Sastra Banjar adalah “ Syair “. Seperti juga syair dikesastraan Indonsia Lama, Sastra Banjar Syair mempunyai bentuk empat baris setiap baitnya, persajakannya aa-aa dan isinya mengandung hikayat, sejarah, nasihat, pendidikan, percintaan, keagamaan dan dongeng, dan munculnya syair setelah adanya pengaruh agama Islam. Tetapi bedanya media yang digunakan Syair Kesastraan Indonesia Lama, Bahasa Indonesia sedangkan Sastra Banjar Syair, Bahasa Banjar. Disamping itu banyak syair – syair dalam Sastra Banjar ditulis oleh pengarangnya dengan menggunakan tulisan Arab. Sayangnya syair- syair yang ditulis dengan tulisan Arab ini sampai sekarang belum banyak ditulis dengan tulisan Latin. Akibatnya syair – syair Sastra Banjar ini hanya merupakan Koleksi Filologika Museum Negeri Kalsel di Banjarbaru.

Beberapa syair Banjar : Syair Sipatul Golam, Syair Ganda Kasuma, Syair Ringgit, Syair Tajul Muluk, Syair Surat Tarasul, Syair Siti Jabidah, Syair Indra Bumaya, Syair Khabar Kiamat, Syair Panji Kasmaran, Syair Brahma Sahdan, Syair Ratu Kuripan “ dan lain – lain.

B) Gurindam

Gurindam adalah syair yang terdiri dari seuntai yang isinya nasihat, petuah dan lain – lain.

C) Pantun

Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.

Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari satu suku kata saja. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima sajaknya (a),(a),(b),(b).

Terkadang pantun Banjar ada yang unik, mirip dengan syair yakni baris – barisnya hampir tidak dapat dibedakan sampiran dan isi dan rima sajaknya (a),(a),(a),(a). Yang lebih unik lagi apabila pantun ini merupakan lirik dari lagu atau nyanyian yakni terjadi pengulangan baris sehingga menimbulkan bunyi dan irama yang harmonis.

Pantun Banjar ada lima ragam : 1) Ragam Pantun Banjar Biasa : Seperti Pantun Agama, Pantun Adat Istiadat, Pantun Badatang, Baturai Pantun, Panglipur, Papujian, Balolocoan, Marista, Pantun Insyaf, Pantun Bacucupatian, Pantun Urang Anum. 2) Ragam Pantun Banjar Pantun Tarasul 3) Ragam Pantun Banjar Sebagai Lirik Lagu atau Nyanyian 4) Ragam Pantun Banjar Sebagai Pengiring Tarian 5) Ragam Pantun Wayahini.

D) Puisi ( Sajak )

Puisi ( Sajak ) termasuk kesastraan baru dan kesastraan modern.

4) Teater

Teater ada dua : Teater Modern dan Teater Tradisional.

1) Teater Modern : Teater dari daerah/negeri lain.

2) Teater Tradisional Banjar yaitu Teater yang khas daerah Banjar yakni :

Salah satu teater tradisional Kalsel yang masih bisa bertahan hidupnya adalah “ Mamanda “. Mengapa demikian ? Sebab cerita dari Mamanda memang mengasyikkan tak kalah dengan cerita sinetron atau film. Walau pun tokoh-tokoh dalam Mamanda “ baku “ namun dapat ditambah tokoh-tokoh lain dengan cerita yang lain, artinya cerita mamanda dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan jaman. Apa lagi durasi pertunjukkan mamanda jang semula semalam suntuk sekarang disesuaikan dengan permintaan, maksudnya bisa durasinya 3 jam atau 5 jam. Istemewanyanya Mamanda, bisa dimainkan dengan sebuah naskah yang utuh seperti terater modern atau hanya dengan mengatur cerita seperti garis besar cerita, babakan dan plot, sedangkan dialog dikenal dengan istilah impropisasi. Pemain – pemain Mamanda memang dikenal keahliannya berimpropisasi. Tokoh-tokoh mamanda yang baku itu adalah Raja, Mangkubumi, Wazir, Perdana Menteri,Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam, Permaisuri, Anak Raja ( bisa putri atau Pangeran ). Tokoh-tokoh lain sesuai cerita misalnya Raja dari Negeri lain, Anak Muda, Perampok,Jin, Belanda, atau nama dari daerah lain ( Jawa, Cina, Batak, Madura atau lainnya ). Seperti juga di teater modern, sebelum pertunjukkan dimulai akan dibacakan sinopsisnya, di mamanda dipaparkan lewat “ Baladon “. Baladon adalah tutur cerita dengan dibawakan berlagu dan gerak tari. Cerita mamanda bisa berkolaburasi dengan seni tari atau musik. Yakni setelah kerajaan selesai bersidang maka akan ditampilkan pertunjukkan tari dengan maksud menghibur raja dengan segenap aparat kerajaan atau ketika kerajaan menang perang diadakan pertunjukkan hiburan tari atau musik panting.

Asal mula Mamanda adalah Badamuluk ketika rombongan bangsawan Malaka ( Abdoel Moeloek atau Indra Bangsawan, 1897 M ) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa, menetap di Tanah Banjar beberapa bulan mengadakan pertunjukkan. Teater ini begitu cepat populer di tengah masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “ Mamanda “. Mamanda mempunyai pengertian “sapaan” kepada orang yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekjluargaan.

 

Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama : Aliran Batang Banyu. Yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua : Aliran Tubau bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau Rantau. Sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau. Aliran ini yang berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukkan Mamanda mempunyai nilai budaya Yaitu pertunjukkan Mamanda disamping merupakan sebagai media hiburan juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh toladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Bermula, Mamanda mempunyai pengiring musik yaitu orkes melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama melayu, sekarang beralih dengan iringan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut , Lagu Mandung-Mandng, dan Lagu Nasib.

Dari uraian singkat di atas, ada beberapa peninggalan leluhur ini satu per satu sudah mulai terlupakan dan tenggelam. Masyarakat Banjar banyak yang tidak mengenal atau tidak tahu lagi pusaka leluhurnya yang seharusnya perlu dijaga, dilestarikan bahkan dikembangkan. Seperti upacara Badudus, baturai pantun dalam upacara perkawinan ( Badatang ), Manyanggar Banua, Bakisah,Tari – tarian terutama tari – tari kelasik seperti tari topeng atau tarian – tarian yang kental dengan akar budayanya. dan lain – lain,

Meskipun peninggalan leluhur itu masih ada, namun hidupnya sangat memperihatinkan dan sangat dikhawatirkan bahwa derasnya arus Era globalisasi dan modernisasi akan mengikis habis pusaka leluhur ini maka perlu upaya – upaya agar pusaka leluhur itu dapat terus dipertahankan.

Tidak saja seminar, diskusi, kongres budaya, Aruh Sastra, pelatihan yang terus diselenggarakan tetapi juga Pemerintah daerah, seniman budayawan, Lembaga Budaya Banjar, Dewan Kesenian dan pihak – pihak yang terkait lainnya setiap tahun mengadakan festival dan pergelaran seperti atraksi adat Banjar, festival Pasar Terapung, musik tradisional, teater tradisional, tari – tarian Banjar, pameran bersejarah, pusaka bertuah, benda budaya serta berbagai kerajinan Banjar.

Upaya – upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan suatu gerakan masyarakat Banjar pendukung pusaka leluhurnya agar gigih dalam menjaga, mengembangkan dan melestarikannya secara bertanggung jawab di Tanah Banjar. Semoga ***

 

IMPERIALISME BAHASA GAUL

Posted on Januari 12, 2011 by arsyadindradi

Melihat perkembangan bahasa daerah Banjar sangat memperihatinkan, karena kian hari kian tercemar dan tergeser. Yang lebih memperihatinkan lagi adalah generasi muda Banjar sudah banyak yang melupakan bahasa daerahnya, bahkan ada yang tidak tahu sama sekali bahasa daerahnya. Ini sangat berasalan, bahwa munculnya istilah “ bahasa gaul “.

 

Bahasa gaul ini lah yang meracuni bahasa daerah Banjar. Bahasa gaul ini mewabah dalam pergaulan masyarakat Banjar terutama di daerah perkotaan. Munculnya bahasa gaul ini ke ruang publik secara luas, antara lain adalah pada siaran – siaran radio swasta terutama Radio Frekwensi Modulasi, dan televisi swasta menayangkan sinetron maupun acara lainnya memakai bahasa gaul.Desakan dari bahasa gaul ini ternyata bukan saja dialami oleh bahasa Banjar, tetapi juga dialami oleh bahasa Indonesia. Bahasa gaul ini sebagian besar didominasi oleh bahasa Jakarta ( dialek dan logat Betawi ).Sesungguhnya Negara menghargai dan mempertahankan semua bahasa daerah di Indonesia, namun pemakaiannya dalam ruang lingkup daerah itu sendiri dan pada ranah budaya. Pemakaian bahasa pada ruang publik secara luas tentu saja sebagai bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional seperti pada salah satu fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara yang tercantum pasal 36 Bab XV UUD 1945. Di Riau, pernah mahasiswa Universitas Riau memperotes pemerintah dan masyarakatnya agar memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar pada sisuatsi resmi. Kembali kebahasa Banjar. Agar imperialis bahasa ini jangan sampai tertanam lebih dalam di banua Banjar, sepatutnyalah kita semua harus membendung imperialis ini. Pemerintaah daerah, lembaga bahasa, lembaga kebudayaan Banjar, masyarakat Banjar, lebih – lebih generasi muda Banjar lebih menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia seperti pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928. Semoga.***** Arsyad Indradi

Minggu, 21 Juli 2024

 Biodata Arsyad Indradi



Arsyad Indradi, lahir di Barabai tgl.31 Des 1949, disamping menyenangi sastra terutama puisi juga seni tari dan teater. Karya puisinya banyak dipublikasikan baik di media cetak lokal mau pun nasional.

Selalu aktif menghadiri event-event sastra di Kalsel dan Indonesia serta mengikuti Road Show Puisi Menolak Korupsi (PMK) dan Memo Untuk Presiden (MUP) lebih dari 30 kota di Indonesia.

 Antologi Puisi tunggalnya :

1. Nyanyian Seribu Burung ( KSSB, 2006 ),
2. Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “Kalalatu “ ( KSSB, 2006 )
3. Romansa Setangkai Bunga ( KSSB, 2006 )
4. Narasi Musafir Gila ( KSSB, 2006 ),
5. Anggur Duka ( KSSB,2009)
6. Puisi Bahasa Banjar dan Terjemahan Bahasa Indonesia “Burinik” (KSSB,2009)
7. Antologi Haiku “Tirai Hujan” memuat 1500 haiku, (KSSB,2016)
8. Antologi Puisi “ KAMAR “ Eksplorasi perjalanan musafir rindu. ( Pustaka Banua, 2017 )
9. Antologi Tanka “ Ruang Hening “ memuat 1500 tanka.(2023)
 
Penghimpun :
1. Puisi Penyair Nusantara : “ 142 Penyair Menuju Bulan (KSSB,2006)
2. Kumpulan Esai dan Artikel dari beberapa sastrawan Indonesia dengan tajuk : Risalah Penyair  Gila  (KSSB,2009)
3. Buku Melirik Pantun Banjar (2023)
 
Antologi Puisi bersama antara lain :
Jejak Berlari ( Sanggar Budaya, 1970 ), Edisi Puisi Bandarmasih, 1972, Panorana (  
Bandarmasih, 1972), Tamu Malam ( Dewan Kesenian Kalsel, 1992), Jendela Tanah 
Air ( Taman Budaya /DK Kalsel, 1995), Rumah Hutan Pinus ( Kilang Sastra, 1996),
Gerbang Pemukiman ( Kilang Sastra, 1997 ), Bentang Bianglala ( Kilang Sastra,
1998), Cakrawala ( Kilang Sastra, 2000 ), Bahana ( Kilang Sastra, 2001 ), Tiga
Kutub Senja ( Kilang Sastra, 2001 ), Bulan Ditelan Kutu ( Kilang Sastra, 2004 ),
Bumi Menggerutu ( Kilang Sastra, 2004 ), Baturai Sanja ( Kilang Sastra, 2004 ),
Anak Jaman ( KSSB, 2004 ), Dimensi ( KSSB, 2005 ), Seribu Sungai Paris Barantai   
(2006), Penyair Kontemporer Indonesia dalam bhs China (2007), Kenduri Puisi

Buah Hati Untuk Diah Hadaning (2008),Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam  (2008), Bertahan Di Bukit Akhir (2008),Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009),Konser Kecemasan (2010), Akulah Musi (2011), Sauk Seloka ( 2012), Puisi Menolak Korupsi I ( 2012), Puisi Menolak Korupsi 2a (2013), Lantera Sastra II (2014), Puisi Menolak Korupsi 4 ( 2015), Kata Cookies Pada Musim , (2015), Bunga Rampai Puisi Tifa Nusantara 2, (2015), Memo Untuk Wakil Rakyat,(2015, Musim ke-1 1000 Haiku Indonesia,(KKK,2015),  Anti Terorisme ,(2016), Musim ke-2 1000 Haiku Indonesia,(KKK,2016), Musim ke-3  Haiku Indonesia (KKK.2017) dll.

 Anugrah yang pernah diterima :

1. Seni Tari dari Majelis  Bandaraya Melaka   Bersejarah pada Pesta Gendang  Nusantara VII   
     Malaysia (2004),
 2. Seni Tari dari Majelis  Bandaraya Melaka Bersejarah pada Pesta Gendang 
     Nusantara XII Malaysia (2009),
3. Seni Tari dari Walikota Banjarbaru  (2004.
4. Seni Sastra dari Walikota Banjarbaru  (2010)
5. Seni Sastra dari Gubernur Prov.Kalsel (2010)
6. Anugrah Budaya dari Gubernur Prov. Kalsel (2014)
7. Sastra Dari Yayasan Kamar Sastra Nusantara Kalsel (2014))
8. Pengawas Seni Berprestasi I Kabupaten Banjar dan Provinsi Kalimantan Selatan (2009)
9. Anugerah Sastra dari Tifa Nusantara (2015 )
10.Anugerah Astaprana Utama dari Kesultanan Banjar (2016)
11. Anugrah Seni Budaya ( bidang Sastra ) dari Gubernur Prov.Kalsel (2023)
 
Tempat tinggal : Jalan Pramuka No.16 RT 03 RW 06 Kel.Mentaos Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan.
Email : arsyad_indradi@yahoo.co.id
 
 

 


Saya hibahkan beberapa buku dengan beberapa judul  karya Arsyad Indradi ke Perpustakaan Daerah Prov.Kalsel,  Balai bahasa Prov, Kalsel, Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru dan perpustakaan sekolah di Banjarbaru, 

                                                           



Perpus Daerah Prov Kalsel.


Balai Bahasa Prov.Kalsel.

Perpus Banjarbaru

SMA neg.1 Bbaru




SMA Neg.2 Bbaru







Sabtu, 20 Juli 2024

 Telah terbit Antologi Haiku " Tirai Hujan " karya Arsyad Indradi

Memuat 1500 Haiku Indonesia
 



 Bersama maestro Pelukis Misbach Tamrin pada acara Diskusi da Peluncuran Misbach Tamrin ,Eksplanasi Jejak dan Konformitas Rupa, Sabtu, 20 Juli 2024, di Misbar Banjarbaru








Jumat, 19 Juli 2024

 

Di Restoran Jepang- Indonesia, Banarbaru, Sizukekun   " menikmati Takoyaki.




 Pembuatan Film " Sungai Nafas Kehidupan " Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kalimantan Timur, lokasi Pasar Terapung Lok Baintan Kab.Banjar. 






 Persiapan Film Loundry bersama Garin Nugroho, Aswendy, Arsyad Indradi dkk. 2 Mei 2023 di Banjarmasin.





 Antologi Puisi karya Aryad Indradi bertajuk : KAMAR, telah terbit






 Dua buah buku karyaku yang baru terbit :

1. Melirik Pantun Banjar

2. Ruang Hening ( 1500 Tanka Indonesia )





Rabu, 09 Juli 2014

AKANKAH WAYANG KULIT BANJAR BISA BERTAHAN HIDUP DI ERA GLOBALISASI INI ?

Oleh : Arsyad Indradi. 

Pertunjukkan lakon wayang kulit telah menjalani proses hidup dari zaman ke zaman. Pada masa kejayaan Agama Hindu dan Budha, wayang kulit adalah santapan rohani bagi penganutnya yang dibawakan oleh para biku atau pun biksu yang berpusat di Candi Penataran di Jawa Timur. Cerita yang dibawakan adalah cerita Ramayana yang disusun oleh Walmiki dan Mahabharata yang disusun oleh Wiyasa. Selengkapnya klik disini...

MADIHIN, SASTRA BANJARNYA URANG BANJAR


Oleh : Arsyad Indradi 


Ada yang berpendapat bahwa madihin berasal dari kata madah, yaitu sejenis puisi lama dalam sastra Indonesia. Madah merupakan syair yang mempunyai rima yang sama pada suku akhir kalimat. Madah mengandung puji - pujian, nasehat atau petuah. Tetapi dalam perkembangannya humor atau lulucuan, sindiran yang sehat, tak ketinggalan disuguhkan olehPamadihinan ( orang yang membawakan madihin ) sebagai bumbu. Selengkapnya klik disini...

Lamut Sastra Banjarnya Urang Banjar

Oleh : Arsyad Indradi 

Lamut adalah salah satu sastra Banjar atau dikatakan juga cerita bertutur yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadiPalamutan ( orang yang bercerita lamut ), dan tidak ada yang peduli dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untukmelestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini. Selengkapnya klik disini...


Sekilas Menjenguki Wayang Gung

Oleh : Arsyad Indradi 


Diperkirakan munculnya kesenian Wayang Gung di Tanah Banjar pada abad ke XVIII atau sekitar tahun 1760 M. Raja Banjar mempunyai hubungan erat dengan raja – raja di Pulau Jawa terutama Demak dan Mataram, sekitar abad ke XV. Hubungan inilah kesenian dan kebudayaan Jawa masuk ke Kalimantan. Kesenian ini antara lain adalah Wayang Orang.Wayang Orang ( Wayang Wong – Jawa ) sangat berkenan di hati suku – suku Kalimantankhususnya masyarakat Banjar.Selengkapnya klik disini...


.