Selasa, 31 Mei 2011

Tari Semangat Ratu Zaleha ke Belanda



Temanku menelponku bahwa dia kaget membaca release di Media Kalimantan (aku lupa tanggal terbitnya),Kesultanan Banjar akan ke Eropah (Belanda) dengan tim kesenian tarinya membawakan beberapa tarian salah satunya Tari Semangat Ratu Zaleha. Dia kaget mengira aku ikut berangkat. Sebab baru saja kami bertemu di rumahku dan tidak tersentuh pun pembicaraan hal ini. Dia tahu tarian itu aku yang menciptanya. Balik aku juga kaget, sebab baru sekarang tahu Tarian ciptaanku itu di bawa ke Eropah, sebelumnya Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu tak pernah konfermasi (izin) kepadaku sampai keberangkatannya ke Eropah. Aku agak bangga juga Tarian ciptaanku dibawa, namun sayangnya sebelumnya tidak pernah minta izin kepadaku. Jika tahu adat istiadat dan menjunjung tinggi “Pemangku Adat” tentu Tim kesenian Kesultanan Banjar ini akan “bapadah”. Sesunguhnya aku bukan ingin dihormati dan juga tidak ada sedikit pun niatan handak “bakasak” ikut tapi seyogyanyalah “bapadah” kepada koreografernya. Dan sejujurnya aku sangat berterima kasih dan akan mengizinkan dengan tulus. Dalam hal ini aku juga dapat berpartifasi membantu sewaktu penarinya sedang latihan siapa tahu ada hal-hal yang tidak pas dengan kreograferku. Sebab bagaimana pun juga ini menyangkut nama penciptanya manakala dibacakan sinopsis dan nama kreograpernya sebelum tarian itu ditampilkan. Apa lagi setelah kuketahui bahwa penari Tim Kesenian Kesultanan Banjar itu penari “pemula” tidak profisional.
Setelah temanku menelponku,aku menelpon Mama Rima (Isteri Raja Muda Pangeran Khairul Saleh) betapa kagetnya dan diluar pengetahuan beliau. Dalam hal ini beliau minta maaf dan “bapadah”. Aku mengizinkan dan bahkan mengiringi doa restu.. Tetapi aku tetap minta kepada beliau Tim Kesenian Kesultanan Banjar (yang bertanggung jawab) harus datang kepadaku. Ternyata sampai keberangkatan ke Eropah Tim ini tidak nampak batang hidungnya.
Sesungguhnya ini adalah merupakan pembelajaran bagi kita semua bahwa kita harus selalu menjunjung tinggi hak cipta dan menghargai hasil karya seniman ( maaf bukan seniman dadakan atau seniman tempelan ) agar Seni Budaya Banjar dan Adat Istiadat Tanah Banjar selalu lestari. Semoga. (Arsyad Indradi )

Minggu, 29 Mei 2011

Lomba Bakisah Bahasa Banjar

Pemenang Lomba Bakisah Bahasa Banjar berfoto dengan dewan juri dan Kepala Sekolah

SMP Negeri 1 Martapura Timur tidak ketinggalan memperingati Hardiknas dengan mengadakan kegiatan lomba seperti cerdas cermat,catur dan bakisah bahasa banjar dengan tema keagamaan antar Sekolah Dasar se Martapura Timur, tanggal 26,27dan 28 Mei 2011. Isnu Wahyono M.Pd selaku kepala Sekolah menjelaskan bahwa kegiatan ini memang merupakan iven tahunan dari Sekolah. Nur Lailayani ketua panitia pelaksana menambahkan,ini merupakan sosialisasi dalam rangka memperkenalkan SMP Negeri 1 Martapura Timur yang masih berusia muda. Hasil dari lomba Bakisah Bahasa Banjar adalah sbb.
Juara I : M.Ilmi dari SDN Akar Begantung
Juara II : Istirofah dari SDN Pekauman 2
Juara III : Siti Nur Latifah dari SDN Dalam Pagar Ulu

Selasa, 10 Mei 2011

Tari Daerah Banjar : Semangat Ratu Zaleha

Elok si bunga tanjung
Mekar di dalam taman
Elok budi bauntung
Pahlawan dalam kenangan

Serumpun Tanah Melayu
Pulau Pandan Angsana dua
Ikat simpul kita bersatu
Negri Banjar tanah pusaka

Koreografer : Arsyad Indradi
Penata Tari : Aprina Indradi, S.Sn



Sinopsis :

Ratu Zaleha putri Sultan Muhammad Seman cucu Pangeran Antasari, adalah pahlawan wanita Banjar pewaris terakhir perang Banjar 1905. Dengan semangat Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing, Ratu Zaleha bersama pasukannya mengusir penjajah Belanda dan mempertahankan Benteng Manawing dan Tambang Batu Bara Oranje Nassau. Ratu Zaleha dianggap macan wanita yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Perang berjalan 5 tahun. Sedang fisik Ratu Zaleha sudah menurun, dan karena kuatnya serangan Belanda maka Benteng itu dapat direbut oleh Belanda. Ratu Zaleha diasingkan ke Bogor tahun 1906. Perjuangan Ratu Zaleha mencatat sejarah dan menjadi simbol tokoh emansipasi wanita Tanah Banjar.



Tari Semangat Ratu Zaleha ini telah dipergelarkan pada acara Rampak Gendang Nusantara XII di Malaka Bersejarah, Malaysia 7 sd 16 April 2009. Disamping tari ini juga dipergelarkan tari rakyat Banjar lainnya yaitu Tari Tirik Lalan, Tari Tirik Kuala dan Tari Maiwak serta Musik Panting mendendangkan lagu-lagu daerah Banjar (Kalsel).untuk masyarakat Malaka ***

Tari Banjar : Radap Rahayu


Pentas Malam Kesenian Grup Tari Selendang Mayang Mtp/Bjb,2011

Asal muasal Tari Radap Rahayu adalah ketika Kapal Perabu Yaksa yang ditumpangi Patih Lambung Mangkurat yang pulang lawatan dari Kerajaan Majapahit, ketika sampai di Muara Mantuil dan akan memasuki Sungai Barito, kapal Perabu Yaksa kandas di tengah jalan. Perahu menjadi oleng dan nyaris terbalik. Melihat ini, Patih Lambung Mangkurat lalu memuja “ Bantam” yakni meminta pertolongan pada Yang Maha kuasa agar kapal dapat diselamatkan. Tak lama dari angkasa turunlah tujuh bidadari ke atas kapal kemudian mengadakan upacara beradap-radap. Akhirnya kapal tersebut kembali normal dan tujuh bidadari tersebut kembali ke Kayangan. Kapal melanjutkan pulang ke Kerajaan Dwipa. Dari cerita ini lahirlah Tari “ Radap Rahayu “ ( anonim ). Tarian ini sangat terkenal di Kerajaan Banjar karena dipentaskan setiap acara penobatan raja serta pembesar-pembesar kerajaan dan juga sebagai tarian penyambut tamu kehormatan yang datang ke Banua Banjar, upacara perkawinan, dan upacara memalas banua sebagai tapung tawar untuk keselamatan. Tarian ini termasuk jenis tari klasik Banjar dan bersifat sakral.Dalam tarian ini diperlihatkan para bidadari dari kayangan turun ke bumi untuk memberikan doa restu serta keselamatan . Gerak ini diperlihatkan pada gerakan awal serta akhir tari dengan gerak “terbang layang”. Sayair lagu Tari Radap Rahayu diselingi dengan sebuah nyanyian yang isi syairnya mengundang makhluk-makhluk halus ( bidadari ) ketika ragam gerak “Tapung Tawar”, untuk turun ke bumi. Jumlah penari Radap Rahayu selalu menunjukkan bilangan ganjil, yaitu : 1,3,5,7 dan seterusnya. Tata Busana telah baku yaitu baju layang. Hiasan rambut mengggunakan untaian kembang bogam. Selendang berperan untuk melukiskan seorang bidadari, disertai cupu sebagai tempat beras kuning dan bunga rampai untuk doa restu dibawa para penari di tangan kiri. Seiring lenyapnya Kerajaan Dwipa, lenyap juga Tari Radap Rahayu. Tarian tersebut kembali digubah oleh seniman Kerajaan Banjar bernama Pangeran Hidayatullah. Namun kembali terlupakan ketika berkecamuknya perang Banjar mengusir penjajah Belanda. Pada tahun 1955 oleh seorang Budayawan bernama Kiayi Amir Hasan Bondan membangkitkan kembali melalui Kelompok Tari yang didirikannya bernama PERPEKINDO ( Perintis Peradaban dan Kebudayaan Indonesia) yang berkedudukan di Banjarmasin. Sampai saat ini PERPEKINDO masih aktif mengembangkan dan melestarikan Tari Radap Rahayu. (Arsyad Indradi )

Tari Banjar : Kuda Alas

Penata Tari : Arsyad Indradi

Pagelaran di Nusa Dua Bali,2004
Foto : A.Indradi

Sebuah tarian yang menggambarkan bagaimana binal dan liarnya kuda-kuda yang hidup di padang rumput terbuka atau di hutan – hutan yang lebat pepohonannya. mereka satu sama lain saling bersaing untuk mengusai padang rumput dan tak jarang terjadi perkelahian. Namun akhirnya kelompok – kelompok yang bertikai itu rukun bersatu. Karena mereka adalah satu jenis bernama kuda. Tarian ini adalah sebuah tarian kreasi baru yang diolah bersumber dari gerak-gerak tari rakyat atau tarian tradisional, seperti pada tarian wayang gong (wayang oarang) dan kuda gepang. Tarian ini kental sekali di dalam masyarakat Banjar. Tarian ini dipertunjukkan saat perayaan hari-hari besar baik daerah, nasional atau pun acara hiburan lainnya.

Tari Banjar : Baksa Kipas

Koreografer : Arsyad Indradi

Pagelaran di Nusa Dua Bali,2004
Foto : A.Indradi

Tari Baksa Kipas adalah sebuah tarian klasik yang hidup di masyarakat Banjar yaitu di daerah Sungai Asam Kecamatan Karang Intan Kabupaten banjar. Namun beberapa tahun silam tarian ini terlupakan dan akhirnya tenggelam.
Pada tahun 1985 Arsyad Indradi bersama seniman tari Kota Banjarbaru mengadakan riset dan menghidupkan kembali Tari Baksa Kipas ini. Tarian ini dikemas kembali karena yang mewarisi tarian ini sudah manula. Tarian ini menggambarkan gadis-gadis Banjar sedang bermain-main dan bergembira ria disuatu pertamanan. Hand propertis yang digunakan adalah kipas. Kipas ini merupakan hasil kerajinan masyarakat Banjar yang menjadi cendra mata bagi wisatawan yang datang ke Tanah Banjar.

Tari Banjar : Galuh Marikit

Koreografer : Arsyad Indradi

Pagelaran di Nusa Dua Bali,2004
Foto : A.Indradi

Sebuah tarian yang berjenis tari kreasi baru yang digarap bersumber dari gerak-gerak klasik dan dipadu dengan gerak tari rakyat setempat. Tarian ini hidup dan berkembang di daerah Kota Banjarbaru. Tarian ini menggambarkan bagaimana masyarakat Cempaka keserahariannya sebagai pendulang intan. Cempaka memang sebuah daerah yang banyak menghasilkan intan yang sangat terkenal baik di Indonesia maupun Manca Negara. Tarian Galuh Marikit ini menggambarkan suasana bagaimana Galuh Marikit yang menjadi idaman para pendulang, dengan gigih dan dengan segenap upaya agar dapat “mamicik” (memperoleh) Galuh Marikit tersebut. Kata “ Galuh Marikit “ adalah sebutan pengganti kata “intan”. Sebab, siapapun apa lagi bagi pendulang intan sangatlah tabu bila langsung menyebut kata “intan “ bila berada di daerah pendulangan terlebih lagi sewaktu sedang mendulang. Menurut kepercayaan, pendulang jika langsung menyebut kata intan maka intan tersebut akan menjauh atau menghilang. Dalam tarian ini ada beberapa pelaku yaitu : Galuh Marikit sebagai tokoh utama, Aamasan, titimahan, dan bebatuan lainnya sebagai pendukung ( babantalan ). Arsyad Indradi sebagai kreograper, menitik beratkan pada penokohan “Galuh Marikit”. Jadi gambaran pekerja pendulang adalah sebagai backgroundnya saja. Pelaku tarian ini adalah : Galuh Marikit, Aamasan, Titimahan, dan bebatuan lainnya sebagai pendukung (babantalan) sekaligus berperan sebagai pendulang.

Tari Banjar : Baksa Kembang


Pagelaran di Nusa Dua Bali,2004
Foto : A.Indradi

Tari Baksa Kembang termasuk jenis tari klasik, yang hidup dan berkembang di keraton Banjar, yang ditarikan oleh putri-putri keraton. Lambat laun tarian ini menyebar ke rakyat Banjar dengan penarinya galuh-galuh Banjar. Tarian ini dipertunjukkan untuk menghibur keluarga keraton dan menyambut tamu agung seperti raja atau pangeran . Setelah tarian ini memasyarakat di Tanah Banjar, berfungsi untuk menyambut tamu pejabat-pejabat negara dalam perayaan hari-hari besar daerah atau nasional. Disamping itu pula tarian Baksa Kembang dipertunjukkan pada perayaan pengantin Banjar atau hajatan misalnya tuan rumah mengadakan selamatan. Tarian ini memakai hand propertis sepasang kembang Bogam yaitu rangkaian kembang mawar, melati, kantil dan kenanga. Kembang bogan ini akan dihadiahkan kepada tamu pejabat dan isteri, setelah taraian ini selesai ditarikan. Sebagai gambaran ringkas, tarian ini menggambarkan putri-putri remaja yang cantik sedang bermain-main di taman bunga. Mereka memetik beberapa bunga kemudian dirangkai menjadi kembang bogam kemudian kembang bogam ini mereka bawa bergembira ria sambil menari dengan gemulai. Tari Baksa Kembang memakai Mahkota bernama Gajah Gemuling yang ditatah oleh kembang goyang, sepasang kembang bogam ukuran kecil yang diletakkan pada mahkota dan seuntai anyaman dari daun kelapa muda bernama halilipan. Tari Baksa Kembang biasanya ditarikan oleh sejumlah hitungan ganjil misalnya satu orang, tiga orang, lima orang dan seterusnya. Dan tarian ini diiringi seperangkat tetabuhan atau gamelan dengan irama lagu yang sudah baku yaitu lagu Ayakan dan Janklong atau Kambang Muni. Tarian Baksa Kembang ini di dalam masyarakat Banjar ada beberapa versi , ini terjadi setiap keturunan mempunya gaya tersendiri namun masih satu ciri khas sebagai tarian Baksa Kembang, seperti Lagureh, Tapung Tali, Kijik, Jumanang. Pada tahun 1990-an, Taman Budaya Kalimantan Selatan berinisiaf mengumpul pelatih-pelatih tari Baksa Kembang dari segala versi untuk menjadikan satu Tari Baksa Kembang yang baku. Setelah ada kesepakatan, maka diadakanlah workshoup Tari Baksa Kembanag dengan pesertanya perwakilan dari daerah Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan. Walau pun masih ada yang menarikan Tari Baksa Kembang versi yang ada namun hanya berkisar pada keluarga atau lokal, tetapi dalam lomba, festival atau misi kesenian keluar dari Kalimantan Selatan harus menarikan tarian yang sudah dibakukan.******

*** Arsyad Indradi
Ketua/Pelatih "Galuh Marikit Dance Gruop " Banjarbaru

Tari Banjar : Tirik Lalan

Pesta Gendang Nusatara VII,Malaka-Malaysia,2004
Foto :A.Indradi (Bajarbaru)

Jenis tari hiburan. Tarian ini digali dari sebuah tari Bagandut pada tahun 1970-an yang berasal dari daerah Pandahan Kabupaten Tapin. Sebuah tarian yang romantik, yang menggambarkan seorang suami yang ingin merantau ke Tanah Jawa untuk mencari penghidupan yang layak, namun sang isteri rupanya tidak mengijinkan, sebab sang suami pergi tidak tentu entah berapa lamanya. Sang isteri begitu sedih. Sang suami dengan bujuk rayu dan memberikan pengertian pada sang isteri. Pada akhirnya sang isteri mengijinkan juga keberangkatan sang suami. Tarian ini ditampilkan pada acara hiburan dalam memperingati hari-hari besar baik lokal maupun nasional atau perayaan lainnya. ( Arsyad Indradi )




Senin, 02 Mei 2011

Mengenang Perjuangan Pahlawan Perempuan Ratu Zaleha

Mengenang para pahlawan perempuan ini membangkitkan motivasi patriotisme terhadap bangsa dan Negara Indonesia yang sekarang merdeka. Di mana generasi muda bangsa negeri ini terutama remaja putri Indonesia harus mengenal siapa- siapa saja pahlawan perempuan pendahulunya dalam memperjuangkan harkat martabat perempuan yang tertindas dan berjuang mengusir penjajah Belanda dan Jepang sampai titik darah yang penghabisan di kancah pertempuran.

Para pahlawan perempuan itu yang telah dikenal dan banyak pula yang terlupakan.Pahlawan perempuan itu sepeti Marta Christina tahun 1817 di Maluku, Nyi Ageng Serang (1752-1828) Jawa Tengah, Cut Nyak Dien (1850-1908) dan Cut Meutia (1870-1910) di Aceh., Dewi Sartika (1884-1947) di Bandung Jabar, Rohana Kudus (1884-1972) di Padang kemudian pindah ke Medan dan lain – lain.

Banyak pahlawan perempuan yang terlupakan dan luput dari perhatian para pekerja sejarah seperti sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Yakni, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan dan perempuan perkasa lainnya.

Dari sekian para pahlawan perempuan yang terlupakan itu ialah Gusti Zaleha. Gusti Zaleha adalah perempuan perkasa yang patut di ketahui dan patut dikenang sebagai pahlawan perempuan yang gigih memperjuangkan tanah Banjar dari tangan besi penjajah Belanda.

Gusti Zaleha putri dari Sultan Muhammad Seman, cucu dari Pangeran Antasari. Lahir di Lembah Sungai Barito, Muara Lawung,tahun 1880. Di masa anak-anak ia telah merasakan pahit getirnya perjuangan bersama ayahnya dan kakeknya melawan penjajah Belanda. Meninggalnya kakeknya Pangeran Antasari karena sakit, dia sangat kehilangan sekali kakeknya yang selalu mendidiknya agar perempuan Banjar berjiwa patriot dengan semboyan “Waja Sampai Kaputing”. Ketika mulai berangkat dewasa, dia bersama ayahnya terus gencar mengusir penjajah dan selalu diuber-uber Belanda sampai masuk hutan ke luar hutan.

Sebelum ayahnya meninggal Gusti Zaleha sempat diberi cincin kerajaan dari ayahnya. Sejak itu dia menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi kemudian diberi gelar Ratu Zaleha. Bersama suaminya Gusti Muhammad Arsyad terus melanjutkan perjuangan ayahnya. Gusti Muhammad Arsyad adalah saudara sepupunya putra dari pamannya Gusti Muhammad Said. Semasa ayahnya masih hidup, suaminya adalah panglima perang yang sangat dihandalkan ayahnya, dimana bersama suaminya pada tahun 1901 memporak porandakan penyerangan Belanda di daerah Barito.

Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku – suku Dayak Dusun, Kenyah,Ngaju,Kayan,Siang,Bakumpai,Suku Banjar bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah bernama Bulan Jihad seorang perempuan yang sangat pemberani yang selalu bahu membahu di medan pertempuran.

Selama masa perjuangan fisik Ratu Zaleha bersama Bulan Jihad (masuk Islam) tidak ketinggalan memberikan pelajaran baca tulis (Arab Melayu) dan ajaran agama Islam kepada anak-anak Banjar serta memberikan penyuluhan kepada perempuan – perempuan Banjar tentang peranan perempuan,ajaran agama Islam dan ilmu pengetahuan.

Ratu Zaleha sangat murka manakala suami dan pasukannya dilumpuhkan Belanda. Suaminya ditangkap lalu diasingkan ke Bogor pada 1904. Tetapi ia tidak pernah kenal surut dan terus mengadakan perlawanan yang tinggi mempertahankan Benteng Manawing dan Tambang Batu Bara Oranje Nassau atas gempuran Belanda yang lengkap alat persenjataannya.

Ratu Zaleha dianggap macan wanita yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Perang berjalan 5 tahun. Tetapi kondisi fisik Ratu Zaleha mulai menurun karena kelelahan dan pasukannya juga satu persatu gugur dalam suatu pertempuran yang sangat tidak berimbang. Pada bulan Juni 1905, pasukan Ratu Zaleha dilumpuhkan dan dia ditanggkap kemudian bersama ibunya Nyai Salmah diasingkan ke Bogor bersama-sama suaminya Gusti Muhammad Arsyad.

Setelah tertawannya Ratu Zaleha maka berakhirlah “Perang Banjar” yang dimulai tahun 1859. Dan Belanda dengan leluasa menjajah di bumi Kalimantan ini.

Selama 31 tahun Ratu Zaleha bersama keluarganya dipengasingan kemudian diizinkan kembali ke Banjarmasin,1937. Dan pada tanggal 24 September 1953 Ratu Zaleha berpulang kerahmatullah, di makamkan dikomplek MakamRaja-Raja Banjar di Banjarmasin.

Pada tanggal 11 Januari 1954 Bulan Jihad turun dari gunung setelah 49 tahun mengasingkan diri. Dia sangat sedih setelah 4 bulan baru tahu Ratu Zaleha sahabatnya mendahuluinya.

Walaupun Ratu Zaleha telah tiada namun harum namanya tak pernah sirna di hati rakyat Kalimantan. Ratu Zaleha menjadi simbol emansipati waniti Banjar, juga namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum di Martapura Kabupaten Banjar Kalsel.

Arsyad Indradi
Bjb,12 April 2011

Sumber bacaan :
1.Tokoh-Tokoh Pejuang Pada Kesultanan Kerajaan Banjar (Disbudpar,Kab.Banjar)
2.Pangeran Antasari oleh H.Hamlan Arpan (Mutiara Sumber Widya,1992)
3.Orang-Orang Terkemuka dalam Sejarah Kalimantan oleh Anggraini Antemas (BP>Anggraini Features Bjm,1971)

Senin, 20 Desember 2010

BUDAYA BANJAR : AYUN BAPUKUNG

Guring – guring anakku guring
Guringakan dalam pukungan

Anakku nang bungas lagi bauntung

Hidup baiman mati baiman


Lirik di atas didendangkan manakala ibu-ibu masyarakat Banjar sedang menidurkan anak. Jika anaknya posisi berbaring lirik “pukungan“ dapat diganti dengan “ayunan“.
Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu.
Isi lirik ini, puji-pujian pada anaknya yang ”bungas langkar ” dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Kalau tidak berupa syair atau pantun, sang ibu membaca salawat rasul atau ayat – ayat suci Al Qur’an.
Seandainya anaknya masih rewel tidak juga mau tidur, biasanya sang ibu berkata : His ! cacak ! anakku jangan diganggu inya sudah guring ( His! Cecak anakku jangan diganggu dia sudah tidur ).
Bapukung adalah menidurkan anak dengan cara sang anak didudukan dalam ayunan dibalut dengan kain tapih sebatas leher.
Ayunan untuk ”guring bapukung” tak bedanya dengan ayunan dengan posisi dibaringkan yaitu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Menidurkan anak dengan bapukung biasanya lebih cepat tertidur dari pada mengayun posisi berbaring.
Maayun anak ini terkadang diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perke
mbangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).
Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Juga, Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga baayun nenek dan kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau terkabul hajat seperti sudah naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang atau juga panjang umur.
Pada realitas masyarakat banjar, tradisi baayun anak sekarang ini berangsur-angsur mulai ditinggalkan atau dilupakan terutama diperkotaan karena arus globalisasi yang semakin dahsyad.
Diharapkan Lembaga Budaya Banjar (LBB) Kalsel, Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar dan Dewan Kesenia maupun intansi terkait dapat membendung arus globalisasi tersebut sehingga Adat Istiadat dan Seni Budaya Banjar tetap lestari di tanah Banjar ini, Semoga.*** Arsyad Indradi (Pengamat Seni Budaya,Penyair)

Kamis, 16 Desember 2010

Topeng,Karawitan dan Wayang Kulit Barikin

Oleh : Arsyad Indradi

Di tanah Banjar (Kalimantan Selatan) banyak punya tarian klasik seperti tari Radap Rahayu, Baksa Kembang,Baksa Dadap,Baksa Lilin, Baksa Panah dan lain-lain. Tarian ini hidup subur dalam keraton Kerajaan Banjar sejak berdirinya kerajaan Banjar pada tanggal 24 September 1526 ( M. Idwar Saleh,1981/1982) sampai berakhirnya perang Banjar yakni berakhirnya pemerintahan Pegustian sebagai penerus kerajaan Banjar tahun 1905 (Ideham, dkk. editor, 2003). Tarian ini masing-masing mempunyai fungsinya, misalnya Tari Radap Rahayu berfungsi dalam acara sakral yaitu menapungtawari penobatan raja atau pembesar kerajaan dan Tari Baksa Kembang untuk penyambutan tamu agung dari kerajaan lain. Setelah berakhirnya kerajaan lambat laun tarian-tarian ini mulai tenggelam dan yang masih betahan hidup adalah Tari Radap Rahayu dan Baksa Kembang di tanah Banjar.
Di samping tarian klasik .seperti tersebut di atas, sesungguhnya ada tarian klasik yang lebih tua yaitu Tari Topeng. Tari Topeng ini tetap lestari di sebuah Desa bernama Barikin dalam wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sejak zaman dahulu sampai sekarang, turun-temurun dan mandiri. Tokoh penari topeng ini adalah “Mastaliah” bersama anak cucu asuhannya.
Menurut A.W.Syarbaini salah satu juriat Barikin yang juga sebagai pimpinan Sanggar Seni Tradisional Ading Bastari Barikin bahwa karawitan sudah ada di desa barikin sejak tahun 1410 yang dibawa oleh seorang Datu bergelar “Datu Taruna”, tari topeng sekitar tahun 1425 dan wayang kulit sekitar 1438.
Topeng Barikin ini juga ada beberapa jenis,lagu pengiring dan fungsinya. Ada yang berfungsi untuk memberi selamat dalam acara sakral “Manyanggar Banua”, dalam acara hajatan dan juga pagelaran berupa hiburan baik dalam perayaan hari-hari besar nasional,daerah mau pun acara perkawinan.
Jenis Tari Topeng Barikin dan lagu pengiringnya ini adalah 1).Panambi lagunya panambi 2).Pamindu lagunya pamindu 3).Gunung Sari lagunya gunung sari 4).Patih lagunya patih 5).Timanggung lagunya timanggung 6).Panji lagunya wani wani, dan 7).Lambang sari lagunya lambang sari. Pengiring tarian ini diiring tetabuhan seperangkat karawitan.
Seiring dengan tarian-tarian Topeng ini, karawitan Barikin ini berfungsi juga sebagai pengiring pertunjukan wayang kulit.. Tahun 1820 dikenal dengan K.Dalang “Kitut”. Setelah K.Dalang Kitut meninggal digantikan oleh putranya K.Dalang Tulur. Dalang ini sangat termashur dari tahun1950 sampai dengan tahun 1975.. Kemudian ditahun 1975 itu bertumbuhan dalang2 Barikin seperti Dalang Alili, Dalang Tuganal,.Dalang Didi dan dalang remaja seperti Dalang Dimansyah, Dalang Rahmadi, Dalang A.W.Syarbaini, dan Dalang Saderi yang sekarang bersama Group Wayang “Panji Sukma” Sanggar Ading Bastari, melanglang buana di Pulau Kalimantan sampai ke luar Pulau Kalimantan.
Pada acara Penobatan Raja Muda dan Penganugerahan Gelar Pangeran, 10-12 Desember 2010, di Martapura, Sanggar Ading Bastari mendapat kehormatan oleh Pangeran Haji Khairul Saleh menggelar Seni Budaya Banjar baik Badudus, Bajapin, Musik Panting, Tari Topeng dan Wayang Kulit.
Sungguh patut dan memang itu seharusnya, adat istiadat dan Seni Budaya Banjar terus dilestarikan dengan kerja nyata bukan hanya sekedar semboyan atau omongan belaka atau diperlukan manakala ada kepentingan lain atau hanya sesaat.*** Semoga.


Senin, 13 Desember 2010

Memangku Adat, menjemput Zaman

Mambangkit Batang Tarandam

Tarandam batang tarandam
Timbul tinggalam diarus banyu
Hilang jua di mata
Hilang jua di hati
Ingat kada jua diingat

Tarandam lawas tarandam
Tarandam lawas diarus banyu
Bangkitakanlah jua batang tarandam lawas
Pusaka paninggalan urang bahari

Mambangkit batang tarandam lawas tarandam
Pusaka bahari nang lawar pang tarandam
Tabangkit jua batang tarandam tabangkit
Barakat kita gawi sabumi

bbaru, 93


Indonesianya :

Mengangkat Batang Terendam

Terendam batang terendam
Timbul tenggelam di arus sungai
Hilang juga di mata
Hilang juga di hati
Ingat tiada juga diingat

Terendamn lama terendam
Terendam lama di arus sungai
Bangkitkanlah juga batang terendam lama
Pusaka peninggalan orang bahari

Mengangkat batang terendam lama terendam
Pusaka bahari yang lama sekali terendam
Terangkat juga batang terendam terangkat
Berkat gawi bergotongroyong

Banjarbaru, 93


Beta empunya diri, Pangeran Arsyad Indradi raja di kerajaan Hati nurani.Kerajaan ini kami bangun dengan hasil keringat kami sendiri,dan pantang dibantu oleh sesiapa termasuk Indonesia. Sebab bantuan ini hanya tipu muslihat sahaja.Kami telah bangkit bersama rakyat kami membangun kembali kerajaan kami setelah ratusan tahun hancur dijajah oleh setan2,dedemit2. Harta pusaka kami dijarah,adat istiadat dan seni budaya kami diinjak-injak.Di kerajaan kami, hukum dan perundangan-undangan kami tegakkan bersama rakyat kami,jangan harap koruptor, penipu kerajaan dan penipu rakyat kami, bisa lolos manis. Seluruh sektor kehidupan di kerajaan kami bangun.Agama, pendidikan dan ekonomi adalah tiga pilar utama.Kami dengan santun menolak kaum kapitalis,. imprealis dan sejenis lainnya masuk ke kerajaan kami,sebab kami punya SDM yang handal.Kami bangun kembali SDA kami yang musnah. Sesungguhnya ingin banyak yang akan kami utarakan pada tuan2,tapi tidak, nanti kami akan menganggap tuan2 adalah kaum yang bebal.***

Senin, 06 Desember 2010

RUMAH BANJAR KOLONI KELELAWAR

Oleh: HE. Benyamine

Mengunjungi anjungan rumah Banjar di Taman Mini Indonesia Indah, seakan sedang menyaksikan istana kelelawar. Meski sudah pernah mendapatkan informasi tentang rumah Banjar yang di huni kelelawar dalam pemberitaan, ternyata melihat langsung memberikan sensasi tersendiri, dan sekaligus terbesit pertanyaan mengapa hal seperti ini dapat terjadi pada anjungan yang keberadaannya untuk memperkenalkan Kalimantan Selatan dengan bentuk bangunan salah satu rumah adat Banjar tersebut. Malah, nampak terlihat berserakannya kotoran kelelawar, yang menandakan telah terjadi koloni terhadap tempat itu, sebagaimana terjadinya koloni terhadap Kalsel oleh perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Menurut pemerintah provinsi, berbagai cara sudah dilakukan untuk mengusir kelelawar dari anjungan Kalsel, namun hasilnya tidak menggembirakan dan belum berhasil, bahkan dengan cara gaib juga sudah pernah dicoba. Rumah Banjar di Ibukota itu seakan telah mengatakan kepada orang-orang yang tertahan dari jauh untuk membatalkan niatnya mengujungi tempat itu, karena koloni kelelawar telah memberikan pesan siapa yang berkuasa atas anjungan tersebut, dan juga memberikan gambaran tentang tiadanya perawatan atas bangunan serta melupakan untuk apa anjungan itu dibangun.

Ada yang berkelakar, kelelawar di anjungan Kalsel merupakan bentuk unjuk rasa kelelawar karena gunung-gunung, lembah, dan bukit-bukit yang menjadi tempat tinggal mereka telah diobrak-abrik pertambangan dan perambahan hutan, sehingga kelelawar memilih untuk pindah ke anjungan Kalsel agar dapat dilihat orang luar tentang kerusakan alam. Kelakar seperti ini memang sering terdengar pada saat lagi mawarung, yang tentu saja untuk bahan tertawaan.
Pengelola anjungan Kalsel sudah berupaya dengan memasang lampu sorot dari sudut rumah mengarah ke atap bubungan tinggi, naman hal ini ternyata tidak membuat kelelawar meninggalkan anjungan. Orang yang berkunjung dan mengetahui maksud diletakkannya lampu sorot tersebut, malah membayangkan bagaimana warga dalam film Batman meminta bantuan kepada Batman, sehingga hal itu menjadi lelucon tersendiri yang mengatakan bahwa wajar saja kelelawarnya tidak mau pindah dikiranya panggilan sebagaimana lampu sorot untuk panggilan Batman.

Bahkan, Arsyad Indradi menyatakan sanggup (serius atau bercanda beliau yang tahu) untuk mengusir kelelawar yang ada di anjungan Kalsel tersebut, jika dia diminta untuk mengatasinya. Si penyair gila tersebut bersedia untuk tinggal di sana untuk sementara hingga kelelawar minggat dari anjungan dengan disediakan fasilitas yang dibutuhkan. Menurutnya kelelawar tersebut hanya memanfaatkan tempat yang sepi dan tidak terurus, sehingga yang dibutuhkan adalah adanya aktivitas dari pengelola anjungan tersebut. Dengan melakukan berbagai aktivitas pada siang hari, dengan berbagai bentuk pagelaran kesenian, khususnya yang tradisional, untuk sekaligus memberikan panggung bagi pertunjukkan kesenian tradisional. Atau, setiap hari diperdengarkan lagu-lagu Banjar dan jenis kesenian lainya dalam bentuk audio untuk mengganggu tidur kelelawar. Bisa juga melaksanakan ritual bagandang nyiru, dengan tujuan membuat kegaduhan dan gangguan terhadap tidur kelelawar.

Dengan Kelelawar yang menghuni anjungan Kalsel merupakan suatu tanda bahwa anjungan tersebut terlantar, menjadi tempat yang sepi, dan tiadanya aktivitas yang menandakan adanya penghuni tempat tersebut. Menurut Sirajul Huda sebagaimana yang dituturkannya, dulu saat anjungan Kalsel itu banyak aktivitas; dengan berbagai pergelaran dan pertunjukkan, tidak ada kelelawar. Kelelawar menempati anjungan Kalsel setelah aktivitas yang biasanya dilaksanakan sudah mulai tidak terlihat, sehingga anjungan menjadi tempat yang sepi pada siang hari yang memberikan suasana bagi kelelawar tidak terganggu dan merasa sebagai rumahnya sendiri. Apalagi, anjungan Kalsel yang dipasang plafon sehingga memberikan ruang kosong gelap pada bubungan tingginya; yang cocok untuk sarang kelelawar, lebih baik dibongkar dan diganti dengan plafon yang langsung menempel pada rangka bubungan tinggi.

Kelelawar akan merasa terganggu jika anjungan Kalsel itu terus melaksanakan berbagai aktivitas pada siang hari, terutama pergelaran dan pertunjukkan kesenian tradisional, yang mana sekaligus untuk memberikan panggung bagi penggiat kesenian tradisional. Dengan mendatangkan para penggiat kesenian tradisional dari Kalsel untuk pentas di anjungan Kalsel, tentu tempat itu tidak lagi seperti gua Batuhapu yang sepi pada malam hari, tetapi akan menjadi gaduh pada malam hari untuk latihan dan aktivitas siang hari untuk penampilan. Para penggiat kesenian tradisional Kalsel yang berdomisili di Jakarta juga dapat diminta dan difasilitasi untuk melakukan pegelaran kesenian, sehingga anjungan Kalsel tiada hari dengan sepi.

Para penggiat kesenian tradisional dari Kalsel yang mendapatkan kesempatan dan fasilitas untuk tampil di anjungan Kalsel, kemungkinan besar mereka bersedia menginap di anjungan tersebut sebagai bagian persiapan untuk pementasannya. Ketersedian MCK anjungan perlu diperhatikan, agar layak untuk menjadi tempat menginap bagi rombongan kesenian. Dengan kehadiran tim kesenian yang datang silih berganti, anjungan Kalsel tidak lagi menjadi tempat sepi dan tidak terawat. Anjungan Kalsel merupakan satu di antara anjungan daerah lainnya, yang mudah bagi para pengunjung Taman Mini Indonesia Indah membandingkan antara anjungan, sehingga sangat jelas perbedaan antara anjungan yang terawat dan ada aktivitasnya dengan yang terlantar, apalagi dengan cengkraman koloni kelelawar yang melempar tahi ke muka Kalsel.

Untuk pementasan atau pergelaran kesenian tradisional di anjungan Kalsel, para anggota dewan (11 anggota DPR dan 4 anggota DPD) dapat diketok pintu hatinya untuk menunjukkan kepedulian pada anjungan Rumah Banjar itu dengan memfasilitasi para rombongan kesenian tradisional setiap bulan sekali dari rombongan yang berbeda-beda untuk dapat pentas, setidaknya satu wakil rakyat satu pertunjukkan. Dengan cara yang lain juga dapat mereka lakukan, setidaknya para wakil rakyat itu malu dengan keadaan anjungan Kalsel yang mana keberadaannya di tempat mereka berdomisili saat ini. Sedangkan figur Menteri Lingkungan Hidup yang berasal dari Kalsel, mungkin juga merasakan malu atas koloni kelelawar pada anjungan Rumah Banjar, yang seperti pesan bagaimana kondisi Kalsel yang mengalami kerusakan alam dan lingkungan hidup; seakan kelelawar bagian korban yang mengungsi ke anjungan Kalsel tersebut.

Jadi, koloni kelelawar terhadap anjungan Rumah Banjar terjadi karena tempat itu kehilangan aktivitasnya, sehingga lebih sering dalam suasana sepi yang memberikan ketenangan pada kelelawar untuk melewatkan siang hari. Pemerintah provinsi harus bertindak cepat dan segera, karena anjungan Kalsel merupakan identitas yang ditampilkan di Ibukota, yang tentunya tidak ingin menjadi gambaran bagaimana tanah Banjar terlihat seperti sedang mengalami masa koloni yang nampak diperlihatkan kelelawar di anjungan Rumah Banjar, dan pihak yang berwenang terlihat tidak dapat berbuat apa-apa sehingga rumah identitasnya dipenuhi dengan berserakannya tahi kelelawar.

(Radar Banjarmasin, 6 Desember 2010: 3)