Selasa, 08 Juli 2014

Wisata Alam Borneo Masih Menunggu Keajaiban

Wisata Alam Borneo/(terutama Loksado) Menunggu Keajaiban Masa Emas Industri wisata kita kini tinggal kenangan, Jeram Loksado - Amandit tak terlihat liar lagi menghilirkan Wisatawan Mancanegara, jalan raya mulus yang kita hamparkan, hotel dan cottages serta fasilitas yang kita bangun seakan tak lagi menarik Wisman.. Promosi, road show, simposium, seminar seakan hanya memberikan jarum tumpul untuk merenda kembali kejayaan itu. Jaman telah berubah Era wisata massal telah berakhir diperparah pula oleh pembabatan hutan yang tak terkendali, maraknya demo bagian dari reformasi kebablasan, bencana bertubi-tubi, Bom Bali dan beberapa selengkapnya klik disini

Jumat, 27 Juni 2014

PANGANTEN BANJAR BAARAK TANDU

: Arsyad Indradi

 “Adat asli jangan dibuang/Hilangakan kupakai jua/Paninggalan urang bahari/Kada lupa sampai mati” 

 Nuansa dan rasa kemasyarakatan tanah Banjar sangat kental dengan adat istiadat dan tatanan leluhur , pada masa-masa lampau. Antara lain perayaan pengantin. Ada beberapa bentuk perayaan penganti, seperti Pengantin Panggung Tinggi, Pengantin Bausung, Pangantin Baarak Naga, Pangantin Baarak Sisingaan, Pangantin Baarak Tandu. Begitu pula dalam perayaan itu ada beberapa penyuguhan karasmin antara lain, Bagipang, Wayang Gung, Manuping, Basinoman Hadrah, Barabana, Baorkes, Balamut, Bajapin, Bakintung ,Bakisah, Sandiwara dan Mamanda. Selenngkapnya klik disini...


Kamis, 26 Juni 2014

KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)

OLEH : LARA MALINI

A. Judul
KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)

 B. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra dan puisi merupakan suatu karya sastra yang banyak digunakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan gagasan pengarang kepada pembaca. Puisi dapat dijadikan sebagai sarana menyampaikan ekspresi jiwa dengan bahasa perlambangan yang penuh makna. Selengkapnyya klik disini...

Melirik Pantun Banjar

Oleh : Arsyad Indradi 

 Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya. 

Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b), ada pula yang berima (a),(a),(a),(a) dan (a),(a),(b),(b).Selengkapnya klik disini ...

Arsyad Indradi Baca Puisi Menolak Korupsi di Indramayu

Road Show Puisi Menolak Korupsi di Ponpes Hidayaturrahman Sukra Indramayu,20 Juni 2014

 

Selasa, 24 Juni 2014

Dancer

Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan 
Kreografer : Oyeb & Dilla 

Tari Baksa Kipas

Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan
 Penata Tari : Baron

 

Tari Baksa Kembang

Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan 
Kreografer : Arsyad Indradi

Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun

Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan
 Pembina dan Kreografer : Arsyad Indradi

Jumat, 08 Maret 2013

Eksotika Pasar Terapung Lok Baintan

Ada dua lokasi pasar terapung di Kalimantan Selatan, yaitu Kuin Banjarmasin dan Lok Baintan Kabupaten Banjar. Pasar terapung Lok Baintan ini merupakan pasar terapung yang lebih besar dari pasar terapung Kuin, dan masih terasa ketradisionalannya. Di dunia, pasar terapung ini yang merupakan alami hanya terdapat di Kalimantan Selatan, keunikannya sungguh menakjubkan demikian juga eksotiknya. Orang bertransaksi dengan jukung (perahu). Barang dagangannya adalah hasil bumi. Mereka adalah petani yang menjual hasil buminya ke sini. Aktivitasnya, dimulai selepas subuh (dini hari) hingga sekitar jam 10 wita. Eksotik lainnya,semua petani dan pedagangnya memakai tanggui. Tanggui adalah topi besar dari daun rumbia. Tanggui ini khas dari Kalimantan Selatan. Bukan itu saja, keramahan dan keakraban para petani dan pedagangnya yang semuanya dominan perempuan itu menambah pesona yang hadir di situ. Dan melihat aneka sayur-mayur dan buah-buahan yang segar, seakan-akan menghadirkan kesegaran jiwa bagi anda yang saban hari dijejali oleh kepenatan dan kejenuhan dunia kerja. Ini sungguh-sungguh eksotik.***A.Indradi.


Foto-Foto Pasar Terapung Lok Baintan





  

Jumat, 15 Juni 2012

Revolusi Budaya

Oleh : Kim Loladis

Photographer : Ahmad Joe

Melihat perilaku generasi muda saat ini mungkin kita akan menghela nafas panjang, apakah budaya kita saat ini telah berevolusi? Mungkin benar, revolusi budaya saat ini seakan begitu deras mengikis secara perlahan akar budaya bangsa Indonesia, baik budaya bahasa moral serta agama.
Banyak factor yang menyebabkan budaya local dilupakan di masa sekarang ini. Masuknya budaya asing ke Indonesia sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataanya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya local mulai dilupakan. Selengkapnya klik disini

Jumat, 23 Desember 2011

MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR


Oleh : Arsyad Indradi

Sejak zaman Datu Nini baik Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya  Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.
I. Nilai Sosial Budaya
 Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali ijuk. Demikan juga masakan berupa empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto Banjar dan lain – lain. Batik Banjar berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.Selanjutnya klik disini.

Minggu, 09 Oktober 2011

TADARUS PUISI 2011 (Padukan Proses Kreatif Penciptaan Puisi dan Pembacaannya)


Oleh: HE. Benyamine

Kota Banjarbaru kembali menggelar  Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra (19 – 20/8) di bulan Ramadhan. Tahun  2011 ini merupakan kegiatan tadarus puisi yang ke-8. Penyelenggaraan kegiatan tadarus puisi yang sudah berlangsung sekian tahun secara berturut-turut merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Rasanya tidak berlebihan jika Ali Syamsuddin Arsi, penyair yang berdomisili di kota Banjarbaru, mengatakan kota Banjarbaru sebagai kota sastra. Selain kegigihan para penyairnya dalam berkarya,  Pemko Banjarbaru yang memfasilitasi berbagai kegiatan berkesenian dan mendukung berputarnya roda organisasi Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, dan apresiasi dari sebagian warga dalam berkesenian dan bersastra.

Dalam penyelenggaraan tadarus puisi ini diarahkan sebagai panggung terbuka untuk siapa saja. Tidak harus penyair atau yang punya karya. Para penikmat sastra juga berperan aktif dalam agenda acara. Semua yang hadir mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil atau mengekspresikan dirinya, seperti membaca puisi dan mengemukakan pandangannya tentang berbagai hal yang berkenaan dengan proses kreatif penciptaan atau pembacaan atas karya-karya yang lahir dari para penyair; dari sekian karya tersebut ada banyak penulisnya sendiri yang hadir. Proses kreatif penciptaan dan proses kreatif pembacaan seakan sedang bertemu dalam acara tadarus puisi.

Tadarus puisi juga menghamparkan “karpet merah” silaturrahmi bagi berbagai kalangan, baik antar sesama penyair maupun dengan yang bukan penyair, antara yang tua dan muda, antara pandangan yang sama dengan yang berlawanan, semuanya berbaur dalam satu panggung terbuka. Mereka yang hadir tidak hanya dari kota Banjarbaru, namun dari kota-kota lainnya yang ada di Kalimantan Selatan. Pertemuan yang menggoda proses kreatif penciptaan dan pembacaan. Perjamuan yang mengesankan dari berbuka puasa (sebagian) hingga sahur.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya yang mengapresiasi jejak kepenyairan mereka yang memang layak dan pantas menerima penghargaan dan penghormatan, tadarus puisi 2011 juga memberikan penghormatan kepada 3 (tiga) penyair kota Banjarbaru yang telah memberikan sebagian waktunya untuk proses kreatif penciptaan puisi dan karya kreatif lainnya, yaitu : (1). Muhammad Syarkawi Mar’ie, (2). Sri Supeni, dan (3). Yuniar M. Ary. Ketiganya telah menghadap ke sisi Allah SWT.

Pada penyelenggaraan sebelumnya, tadarus puisi telah mengapresiasi jejak kepenyairan sebagai wujud penghargaan dan penghormatan kepada: Jafry Zamzam(2007), Eza Thabry Husano dan Hamami Adaby (2008), M. Rifani Djamhari (2009), Arsyad Indradi Si Penyair Gila (2010). Salah satu penyair kota Banjarbaru, Eza Thabry Husano, tahun ini telah berpulang ke sisi Allah, semoga beliau dilapangkan dan dimudahkan. Suatu kehilangan yang mengharukan, karena hingga hari-hari terakhir beliau masih terus berkarya dan semangat yang kuat memotivasi generasi muda dalam proses kreatif penciptaan karya. Hanya doa kepada beliau-beliau yang telah kembali kepada Penciptanya, dan semoga karya beliau-beliau menjadi ilmu bermanfaat.

Pelaksanaan Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarbaru dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kota Banjarbaru. Didukung kelompok, komunitas, dan sanggar seni yang ada di kota Banjarbaru. Sebuah sinergi yang membuka berbagai peluang yang positif dalam proses kreatif penciptaan dan pembacaan, di tengah apresiasi pada sastra yang masih dianggap rendah dan terabaikan dalam pengambilan kebijakan pemangku kekuasaan dan pemihakan dalam anggaran terhadap kegiatan budaya.

Melalui karya-karya para penyair dapat ditemukan adanya harapan dan kebanggaan pada kotanya, sebagaimana puisi Yuniar M. Ary yang berjudul Banjarbaru: “Di dadamu/kuberteduh/di hatimu/kumengeluh/dan di jantungmu/aku kan berlabuh/(menunggu ajal menjemput).” Atau dalam pandangannya tentang kota kecil di kaki bukit Mandiangin yang berubah menjadi kota metropolitan dengan deretan ruko, mobil, dan truk iblis dari utara yang berlomba mengencingi kota yang ada dalam puisi Surat Buat Walikota, yang ditutup dengan bait: “dan kau .../boleh bangga/di surga abahmu bertepuk dada/tuh anakku/dengan gagah/menata kota ... /(banua permai awal kemarau).

Begitu juga puisi Muhammad Syarkawi Mar’ie yang dalam momen hari kemerdekaan tetap terasa menguatkan untuk terus berjuang yang berjudul Teruskan Perjuangannya (1995): “renungan suci di malam yang sepi dan/gulita bukan sekedar doa, karena/perjalanan panjang belum tiba pada titik kemakmuran dan/keadilan yang merata//teruskan perjuangan mereka yang sudah tiada/lahir dan batin kita berjanji/tanpa sorak dan gempita/hutang kepada bumi dan matahari akan dilunasi”. Kobaran semangat untuk perjuangan ini tidak untuk melukis di langit dan nama, seperti angan-angan dan sekedar sebuah kehormatan nama, tapi merupakan sebuah perjalanan tanpa pamrih sebagaimana puisi Benamkan Dirimu Di Bumi Yang Sepi: “benamkan dirimu di bumi yang sepi/walaupun sudah menyiram tanah-tanah kering/dan mengusir kawanan serigala/yang tidak pernah tidur/dan tidak pernah lupa.”

Semangat yang sama dalam bilik yang berbeda begitu jelas terlihat pada Sri Supeni dalam puisi Terbanglah Jok (1983): “inilah hidup/terbanglah!/kau tahu apa arti lebih tinggi” dalam memandang sosok yang kokoh dalam mempertahankan prinsip dan keutamaan hidup. Semangat itu tertuju pada orang lain dan dirinya sendiri, untuk menyadari hidup adalah perjuangan.

Tadarus Puisi dan Silaturahmi Sastra ke-8 di Kota Banjarbaru sudah selayaknya mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sebagai model bersinerginya berbagai komponen dalam upaya mengapresiasi proses kreatif penciptaan. Juga membuka pintu proses kreatif pembacaan terhadap karya-karya para penyair. Karya-karya tersebut tidak menjadi yatim piatu sebagaimana yang diungkapkan Abdurrahman El-Husaini dalam Kumpulan Puisi Bahasa Banjar, Doa Banyu Mata (Tahura Media, 2011) dengan judul Sakalinya (hal. 67): “Sakalinya/Yatim piatu ngitu/Bangaran puisi.” Dalam tadarus puisi terselip harapan bersama untuk saling menghargai dan mengapresiasi, dan tentunya ada tuntutan untuk memelihara yatim piatu sebagaimana bentuk karya lainnya.

(SKH Radar Banjarmasin, 17 Agustus 2011: 3)

Sabtu, 08 Oktober 2011

BURINIK SENI BUDAYA BANJAR


Oleh: HE. Benyamine

Keberadaan wujud seni budaya di tanah Banjar antara ada dan tiada, menurut penuturan yang sering terdengar ada tetapi sudah tidak eksis lagi dalam wujudnya, seperti tenggelam namun masih kelihatan riak-riaknya, beberapa kalangan menyebut hal ini  sebagai diistilahkan dengan sebutan  batang tarandam. Usaha untuk melestarikannya digemakan dengan sebutan maangkat batang tarandam. Keprihatinan demi keprihatinan atas tenggelamnya seni budaya Banjar sering terlontar di sembarang tempat, yang keras terdengar hanya seperti suara pinggiran, dan sesekali mengisi pidato-pidato elit kekuasaan.

Keprihatinan dan keterpanggilan dalam seni budaya Banjar yang terus mengalami keterpinggiran dapat dilihat dari apa yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang, sekecil apapun yang dilakukannya,  akan mempunyai makna yang sangat berarti dalam pelestarian seni budaya Banjar tersebut, bahkan hal itu lebih kepada menghidupkannya kembali dalam ruang pikir dan ruang hiburan masyarakat di mana seni budaya itu hidup dan berkembang dulunya. Upaya yang demikian terlihat dari kegiatan yang digagas Sainul Hermawan dengan Lamut Masuk Sekolah, sebagai contoh yang saat ini terlihat sebagai keteguhan atas ketidakpedulian yang massif. Hal yang sejajar terlihat juga dari karya Arsyad Indradi dalam Burinik (Kumpulan Puisi Bahasa Banjar dengan Bahasa Indonesia-nya) terbitan KSSB Banjarbaru 2011, yang menampilkan berbagai bentuk adat tradisi dan mitos dalam bentuk puisi bahasa Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia.

Dalam Burinik, Arsyad Indradi seperti ingin menegaskan bahwa banyak seni budaya Banjar yang tidak diperhatikan, bahkan generasi belakangan sudah banyak yang tidak mengetahui lagi apa itu Lamut, Badudus, Baahuy, Mamanda, dan lainnya. Sebagaimana digambarkannya pada setiap akhir puisi, seperti dalam Badudus

(penganten) dengan ungkapan, “Mudahan diingat turuntimurun kahada jua talupaakan”. Juga mengenai mitos dan cerita-cerita yang berhubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya, seperti dalam puisi Saekong Bekantan Bini yang ditamsilkan sebagai “Sosok ibu yang teramat ibu”.

Melalui puisi-puisi dalam bahasa Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia, Arsyad Indradi yang dikenal sebagai Penyair Gila, berusaha maangkat batang tarandam dengan upaya memindahkan sastra lisan ke sastra tulisan, karena saat ini sudah mulai ada perubahan dalam sastra lisan tersebut menjadi sastra dalam bentuk tulisan. Bahkan sebagian puisi-puisi dalam Burinik sengaja diberi notasi musik, yang merupakan suatu pengalaman dengan kerinduan urang Banjar pada dendang syair yang juga semakin tidak terdengar lagi. Dengan adanya notasi musik pada puisi-puisi tersebut membuka peluang puisi menjadi hiburan bagi yang mendengarnya, yang mendekatkan puisi pada telinga yang lebih mudah menerima sastra lisan. Salah satu puisi yang ada notasi musiknya adalah Maangkat Batang Tarandam yang lebih pada puisi penyemangat untuk bersama-sama menghidupkan seni budaya Banjar, sekecil apapun itu.

Dengan menyelipkan terjemahan dalam bahasa Indonesia, kumpulan puisi bahasa Banjar Burinik ini, secara langsung diharapkan dapat membantu pembaca yang bukan bahasa ibunya Banjar, sehingga dapat lebih menjangkau pembaca yang lebih luas. Hal ini merupakan suatu peluang bagi orang luar dalam mengenal seni budaya Banjar, yang dapat mendorong rasa ingin tahu dan perasaan yang lebih jauh dalam membayangkan pola pikir orang Banjar. Karena melalui puisi-puisi ini sebagian adat istiadat dan mitos di masyarakat Banjar tergambarkan dengan jelas, yang selama ini lebih banyak terdengar dari penuturan lisan.

Seperti Lamut, yang hingga saat ini belum ada cerita yang dilisankan Palamutan dalam bentuk tulisan atau buku sebagaimana naskah I La Galigo, yang oleh Arsyad Indradi dicoba diketengahkan dalam penggalan cerita dalam puisi Buah Sukma Biduri tentang istri Raden Kasan Mandi yang lagi mengidam, dengan akhir puisi yang menyatakan keprihatinan, “Tarbang mengalunngalun semakin ke ujung semakin menghilang/ … /Aku sudah tua/Aku seoranganlah yang tertinggal tiada siapasiapa lagi/Jika tiada yang meneruskan lamut bagaimana nasib senibudaya Banjar”.  Hal ini begitu sejalan dengan keprihatinan Sainul Hermawan tentang Lamut yang menjadikannya tertarik untuk bahan desertasinya. Jika memperhatikan cerita dan segi naskah sungguh panjang dan menarik untuk diteliti, karena dari cerita-cerita tersebut ada hal yang tersembunyi dan dapat menjadi petunjuk tentang perjalanan panjang penghuni tanah Banjar ini.

Di sini menjadi penting untuk mengupayakan berbagai sastra lisan ke dalam bentuk bahan bacaan, yang sebagiannya sudah mulai diperlihatkan Arsyad Indradi dan beberapa tokoh lainnya, yang cenderung sebagai suatu bentuk keprihatinan dan ketertarikan sendiri-sendiri saja. Sudah seharusnya  hal ini diarahkan menjadi kesadaran bersama-sama, dan tentunya harus dilakukan secara terencana untuk mendokumentasikan semua sastra lisan, sehingga generasi belakangan dapat menemukannya dalam perubahan budaya baca yang semakin meningkat saat ini dan yang akan datang.

Jadi, melalui Kumpulan Puisi Bahasa Banjar Burinik sebenarnya Arsyad Indradi ingin mengingatkan bahwa yang dimaksud batang tarandam benar-benar ada, namun masih terlihat sebagai burinik-burinik, dan masih merupakan cerita mulut ke mulut, belum dapat menunjukkan bahwa yang terendam itu benar-benar seni budaya Banjar yang dimaksud. Di samping itu, sebagian pihak masih disibukkan dengan burinik (riak), tanpa ada kepedulian yang sungguh-sungguh untuk menyelam dan melihat langsung asal burinik tersebut dan meangkatnya ke permukaan sebagai sesuatu seni budaya yang dapat lestari dan menghibur tentunya. Mungkin pada suatu saat, kita dapat melihat Arsyad Indradi mendendangkan puisi-puisi yang berisi seni budaya tersebut dalam suatu tampilan, atau beliau dapat mengadaptasi Lamut dengan isi cerita berasal dari puisi-puisi tersebut. Burinik, burinik, burinik … tentu ada sesuatu di dasarnya.