Wisata Alam Borneo/(terutama Loksado) Menunggu Keajaiban
Masa Emas Industri wisata kita kini tinggal kenangan, Jeram Loksado - Amandit tak terlihat liar lagi menghilirkan Wisatawan Mancanegara, jalan raya mulus yang kita hamparkan, hotel dan cottages serta fasilitas yang kita bangun seakan tak lagi menarik Wisman.. Promosi, road show, simposium, seminar seakan hanya memberikan jarum tumpul untuk merenda kembali kejayaan itu. Jaman telah berubah Era wisata massal telah berakhir diperparah pula oleh pembabatan hutan yang tak terkendali, maraknya demo bagian dari reformasi kebablasan, bencana bertubi-tubi, Bom Bali dan beberapa selengkapnya klik disini
Selasa, 08 Juli 2014
Wisata Alam Borneo Masih Menunggu Keajaiban
Wisata Alam Borneo/(terutama Loksado) Menunggu Keajaiban
Masa Emas Industri wisata kita kini tinggal kenangan, Jeram Loksado - Amandit tak terlihat liar lagi menghilirkan Wisatawan Mancanegara, jalan raya mulus yang kita hamparkan, hotel dan cottages serta fasilitas yang kita bangun seakan tak lagi menarik Wisman.. Promosi, road show, simposium, seminar seakan hanya memberikan jarum tumpul untuk merenda kembali kejayaan itu. Jaman telah berubah Era wisata massal telah berakhir diperparah pula oleh pembabatan hutan yang tak terkendali, maraknya demo bagian dari reformasi kebablasan, bencana bertubi-tubi, Bom Bali dan beberapa selengkapnya klik disiniJumat, 27 Juni 2014
PANGANTEN BANJAR BAARAK TANDU
: Arsyad Indradi
“Adat asli jangan dibuang/Hilangakan kupakai jua/Paninggalan urang bahari/Kada lupa sampai mati”
Nuansa dan rasa kemasyarakatan tanah Banjar sangat kental dengan adat istiadat dan tatanan leluhur , pada masa-masa lampau. Antara lain perayaan pengantin. Ada beberapa bentuk perayaan penganti, seperti Pengantin Panggung Tinggi, Pengantin Bausung, Pangantin Baarak Naga, Pangantin Baarak Sisingaan, Pangantin Baarak Tandu. Begitu pula dalam perayaan itu ada beberapa penyuguhan karasmin antara lain, Bagipang, Wayang Gung, Manuping, Basinoman Hadrah, Barabana, Baorkes, Balamut, Bajapin, Bakintung ,Bakisah, Sandiwara dan Mamanda. Selenngkapnya klik disini...
Kamis, 26 Juni 2014
KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)
OLEH : LARA MALINI
KEBUDAYAAN BANJAR DALAM ANTOLOGI PUISI BURINIK KARYA ARSYAD INDRADI (PERSPEKTIF ANTROPOLOGI SASTRA)
B. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra dan puisi merupakan suatu karya sastra yang banyak digunakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan gagasan pengarang kepada pembaca. Puisi dapat dijadikan sebagai sarana menyampaikan ekspresi jiwa dengan bahasa perlambangan yang penuh makna. Selengkapnyya klik disini...
Sastra merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1993: 8). Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra dan puisi merupakan suatu karya sastra yang banyak digunakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan pikiran dan gagasan pengarang kepada pembaca. Puisi dapat dijadikan sebagai sarana menyampaikan ekspresi jiwa dengan bahasa perlambangan yang penuh makna. Selengkapnyya klik disini...
Melirik Pantun Banjar
Oleh : Arsyad Indradi
Masyarakat Banjar tempo dulu (bahari) sangat gemar berpantun sampai sekarang ini. Yang lebih menggembirakan bukan saja orang – orang tua tetapi juga kaula muda Tanah Banjar masih tetap menggemari pantun bahkan akan tetap melestarikannya.
Struktur pantun Banjar seperti halnya pantun Indonesia lama atau pantun Melayu yang bersetruktur : baris pertama dan kedua adalah sampiran, baris ketiga dan keempat adalah isi. Jumlah suku katanya baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat. Atau jika terjadi selisih suku katanya tidak lebih dari dua suku kata. Atau dari baris pertama, kedua, ketiga dan keempat sama jumlah suku katanya. Rima persajakan pada pantun Banjar ada yang berima (a),(b),(a),(b), ada pula yang berima (a),(a),(a),(a) dan (a),(a),(b),(b).Selengkapnya klik disini ...
Selasa, 24 Juni 2014
Dancer
Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan
Kreografer : Oyeb & Dilla
Tari Baksa Kembang
Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan
Kreografer : Arsyad Indradi
Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun
Lembaga Pendidikan Tari Sanggar Kambang Tigarun Banjarbaru Kalimantan Selatan
Pembina dan Kreografer : Arsyad Indradi
Jumat, 08 Maret 2013
Eksotika Pasar Terapung Lok Baintan
Ada dua lokasi pasar terapung di Kalimantan Selatan, yaitu Kuin Banjarmasin dan Lok Baintan Kabupaten Banjar. Pasar terapung Lok Baintan ini merupakan pasar terapung yang lebih besar dari pasar terapung Kuin, dan masih terasa ketradisionalannya. Di dunia, pasar terapung ini yang merupakan alami hanya terdapat di Kalimantan Selatan, keunikannya sungguh menakjubkan demikian juga eksotiknya. Orang bertransaksi dengan jukung (perahu). Barang dagangannya adalah hasil bumi. Mereka adalah petani yang menjual hasil buminya ke sini.
Aktivitasnya, dimulai selepas subuh (dini hari) hingga sekitar jam 10 wita.
Eksotik lainnya,semua petani dan pedagangnya memakai tanggui. Tanggui adalah topi besar dari daun rumbia. Tanggui ini khas dari Kalimantan Selatan.
Bukan itu saja, keramahan dan keakraban para petani dan pedagangnya yang
semuanya dominan perempuan itu menambah pesona yang hadir di situ. Dan melihat aneka sayur-mayur dan buah-buahan yang segar, seakan-akan menghadirkan kesegaran jiwa bagi anda yang saban hari dijejali oleh kepenatan dan kejenuhan dunia kerja. Ini sungguh-sungguh eksotik.***A.Indradi.
Foto-Foto Pasar Terapung Lok Baintan
Jumat, 15 Juni 2012
Revolusi Budaya
Oleh : Kim Loladis
Photographer : Ahmad Joe
Melihat perilaku generasi muda saat ini mungkin kita akan menghela nafas panjang, apakah budaya kita saat ini telah berevolusi? Mungkin benar, revolusi budaya saat ini seakan begitu deras mengikis secara perlahan akar budaya bangsa Indonesia, baik budaya bahasa moral serta agama.
Banyak factor yang menyebabkan budaya local dilupakan di masa sekarang ini. Masuknya budaya asing ke Indonesia sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataanya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya local mulai dilupakan. Selengkapnya klik disini
Banyak factor yang menyebabkan budaya local dilupakan di masa sekarang ini. Masuknya budaya asing ke Indonesia sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataanya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya local mulai dilupakan. Selengkapnya klik disini
Jumat, 23 Desember 2011
MANINGAU NILAI SOSIAL BUDAYA DAN NILAI SENI BUDAYA BANJAR
Oleh : Arsyad
Indradi
Sejak zaman Datu Nini baik
Nilai – Nilai Sosial budaya dan Seni Budaya Banjar sudah tertanan dalam masyarakat Banjar.
I. Nilai Sosial Budaya
Nilai Sosial Budaya seperti keterampilan dan
kerajinan yakni anyaman, masakan, batik, kamasan, ukir dan tatah. Anyaman dengan bahan tumbuhan purun
yang menghasilkan tikar purun, bakul purun. Bahan paikat (rotan) yang
menghasilkan bakul, lanjung, arangan gayak, bakul kayang ( tangkiding ), bakul
pamasakan, butah, rambat, tangkitan bukit dan lain – lain. Daun nipah yang
menghasilkan “tanggui“ ( tudung ), ketupat, kajang dan lain – lain. Atap rumbia
yang bahannya dari daun rumbia. Dari bahan ijuk menghasilkan sapu ijuk dan tali
ijuk. Demikan juga masakan berupa
empat puluh satu macam kue, gangan asam, gangan balamak, gangan haliling, soto
Banjar dan lain – lain. Batik Banjar
berupa kain sasirangan, dinding airguci, tapih (sarung) wanita. Sasirangan adalah batik khas Kalimantan
Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya
dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan
bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.Selanjutnya klik disini.
Minggu, 09 Oktober 2011
TADARUS PUISI 2011 (Padukan Proses Kreatif Penciptaan Puisi dan Pembacaannya)
Oleh: HE. Benyamine
Kota Banjarbaru
kembali menggelar Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra (19 – 20/8) di
bulan Ramadhan. Tahun 2011 ini merupakan kegiatan tadarus puisi yang ke-8.
Penyelenggaraan kegiatan tadarus puisi yang sudah berlangsung sekian tahun
secara berturut-turut merupakan pencapaian yang patut dibanggakan. Rasanya
tidak berlebihan jika Ali Syamsuddin Arsi, penyair yang berdomisili di kota Banjarbaru, mengatakan kota
Banjarbaru sebagai kota
sastra. Selain kegigihan para penyairnya dalam berkarya, Pemko Banjarbaru
yang memfasilitasi berbagai kegiatan berkesenian dan mendukung berputarnya roda
organisasi Dewan Kesenian Daerah Kota Banjarbaru, dan apresiasi dari sebagian
warga dalam berkesenian dan bersastra.
Dalam
penyelenggaraan tadarus puisi ini diarahkan sebagai panggung terbuka untuk
siapa saja. Tidak harus penyair atau yang punya karya. Para
penikmat sastra juga berperan aktif dalam agenda acara. Semua yang hadir
mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil atau mengekspresikan dirinya,
seperti membaca puisi dan mengemukakan pandangannya tentang berbagai hal yang
berkenaan dengan proses kreatif penciptaan atau pembacaan atas karya-karya yang
lahir dari para penyair; dari sekian karya tersebut ada banyak penulisnya
sendiri yang hadir. Proses kreatif penciptaan dan proses kreatif pembacaan
seakan sedang bertemu dalam acara tadarus puisi.
Tadarus puisi
juga menghamparkan “karpet merah” silaturrahmi bagi berbagai kalangan, baik
antar sesama penyair maupun dengan yang bukan penyair, antara yang tua dan
muda, antara pandangan yang sama dengan yang berlawanan, semuanya berbaur dalam
satu panggung terbuka. Mereka yang hadir tidak hanya dari kota Banjarbaru, namun dari kota-kota lainnya
yang ada di Kalimantan Selatan. Pertemuan yang menggoda proses kreatif
penciptaan dan pembacaan. Perjamuan yang mengesankan dari berbuka puasa
(sebagian) hingga sahur.
Sebagaimana
tahun-tahun sebelumnya yang mengapresiasi jejak kepenyairan mereka yang memang
layak dan pantas menerima penghargaan dan penghormatan, tadarus puisi 2011 juga
memberikan penghormatan kepada 3 (tiga) penyair kota Banjarbaru yang telah
memberikan sebagian waktunya untuk proses kreatif penciptaan puisi dan karya kreatif
lainnya, yaitu : (1). Muhammad Syarkawi Mar’ie, (2). Sri Supeni, dan (3).
Yuniar M. Ary. Ketiganya telah menghadap ke sisi Allah SWT.
Pada
penyelenggaraan sebelumnya, tadarus puisi telah mengapresiasi jejak kepenyairan
sebagai wujud penghargaan dan penghormatan kepada: Jafry Zamzam(2007), Eza
Thabry Husano dan Hamami Adaby (2008), M. Rifani Djamhari (2009), Arsyad
Indradi Si Penyair Gila (2010). Salah satu penyair kota Banjarbaru, Eza Thabry Husano, tahun ini telah
berpulang ke sisi Allah, semoga beliau dilapangkan dan dimudahkan. Suatu
kehilangan yang mengharukan, karena hingga hari-hari terakhir beliau masih
terus berkarya dan semangat yang kuat memotivasi generasi muda dalam proses
kreatif penciptaan karya. Hanya doa kepada beliau-beliau yang telah kembali
kepada Penciptanya, dan semoga karya beliau-beliau menjadi ilmu bermanfaat.
Pelaksanaan
Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra merupakan kerjasama Dinas Kebudayaan,
Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarbaru dengan Dewan Kesenian Daerah
(DKD) Kota Banjarbaru. Didukung kelompok, komunitas, dan sanggar seni yang ada
di kota
Banjarbaru. Sebuah sinergi yang membuka berbagai peluang yang positif dalam
proses kreatif penciptaan dan pembacaan, di tengah apresiasi pada sastra yang
masih dianggap rendah dan terabaikan dalam pengambilan kebijakan pemangku
kekuasaan dan pemihakan dalam anggaran terhadap kegiatan budaya.
Melalui
karya-karya para penyair dapat ditemukan adanya harapan dan kebanggaan pada
kotanya, sebagaimana puisi Yuniar M.
Ary yang berjudul Banjarbaru:
“Di dadamu/kuberteduh/di
hatimu/kumengeluh/dan di jantungmu/aku kan
berlabuh/(menunggu ajal menjemput).” Atau dalam pandangannya
tentang kota kecil di kaki bukit Mandiangin yang berubah menjadi kota
metropolitan dengan deretan ruko, mobil, dan truk iblis dari utara yang
berlomba mengencingi kota yang ada dalam puisi Surat Buat Walikota, yang ditutup dengan bait: “dan kau .../boleh bangga/di surga abahmu bertepuk
dada/tuh anakku/dengan gagah/menata kota ... /(banua permai awal kemarau).
Begitu juga puisi
Muhammad Syarkawi Mar’ie
yang dalam momen hari kemerdekaan tetap terasa menguatkan untuk terus berjuang
yang berjudul Teruskan Perjuangannya
(1995): “renungan suci di malam yang sepi
dan/gulita bukan sekedar doa, karena/perjalanan panjang belum tiba pada titik
kemakmuran dan/keadilan yang merata//teruskan perjuangan mereka yang sudah
tiada/lahir dan batin kita berjanji/tanpa sorak dan gempita/hutang kepada bumi
dan matahari akan dilunasi”. Kobaran semangat untuk perjuangan ini
tidak untuk melukis di langit dan nama, seperti angan-angan dan sekedar sebuah
kehormatan nama, tapi merupakan sebuah perjalanan tanpa pamrih sebagaimana
puisi Benamkan Dirimu Di Bumi Yang Sepi:
“benamkan dirimu di bumi yang sepi/walaupun
sudah menyiram tanah-tanah kering/dan mengusir kawanan serigala/yang tidak
pernah tidur/dan tidak pernah lupa.”
Semangat yang
sama dalam bilik yang berbeda begitu jelas terlihat pada Sri Supeni dalam puisi
Terbanglah Jok (1983): “inilah
hidup/terbanglah!/kau tahu apa arti lebih tinggi” dalam memandang
sosok yang kokoh dalam mempertahankan prinsip dan keutamaan hidup. Semangat itu
tertuju pada orang lain dan dirinya sendiri, untuk menyadari hidup adalah
perjuangan.
Tadarus Puisi dan
Silaturahmi Sastra ke-8 di Kota Banjarbaru sudah selayaknya mendapat apresiasi
dari berbagai pihak, sebagai model bersinerginya berbagai komponen dalam upaya
mengapresiasi proses kreatif penciptaan. Juga membuka pintu proses kreatif
pembacaan terhadap karya-karya para penyair. Karya-karya tersebut tidak menjadi
yatim piatu sebagaimana yang diungkapkan Abdurrahman El-Husaini dalam Kumpulan
Puisi Bahasa Banjar, Doa Banyu Mata (Tahura Media, 2011) dengan judul Sakalinya
(hal. 67): “Sakalinya/Yatim piatu
ngitu/Bangaran puisi.”
Dalam tadarus puisi terselip harapan bersama untuk saling menghargai dan
mengapresiasi, dan tentunya ada tuntutan untuk memelihara yatim piatu
sebagaimana bentuk karya lainnya.
(SKH
Radar Banjarmasin,
17 Agustus 2011: 3)
Sabtu, 08 Oktober 2011
BURINIK SENI BUDAYA BANJAR
Oleh: HE. Benyamine
Keberadaan wujud seni budaya di tanah Banjar antara ada
dan tiada, menurut penuturan yang sering terdengar ada tetapi sudah tidak eksis
lagi dalam wujudnya, seperti tenggelam namun masih kelihatan riak-riaknya,
beberapa kalangan menyebut hal ini sebagai diistilahkan dengan
sebutan batang tarandam. Usaha untuk melestarikannya digemakan
dengan sebutan maangkat batang tarandam. Keprihatinan demi keprihatinan
atas tenggelamnya seni budaya Banjar sering terlontar di sembarang tempat, yang
keras terdengar hanya seperti suara pinggiran, dan sesekali mengisi
pidato-pidato elit kekuasaan.
Keprihatinan dan keterpanggilan dalam seni budaya Banjar
yang terus mengalami keterpinggiran dapat dilihat dari apa yang dilakukan
seseorang atau sekelompok orang, sekecil apapun yang dilakukannya, akan
mempunyai makna yang sangat berarti dalam pelestarian seni budaya Banjar
tersebut, bahkan hal itu lebih kepada menghidupkannya kembali dalam ruang pikir
dan ruang hiburan masyarakat di mana seni budaya itu hidup dan berkembang
dulunya. Upaya yang demikian terlihat dari kegiatan yang digagas Sainul
Hermawan dengan Lamut Masuk Sekolah, sebagai contoh yang saat ini terlihat
sebagai keteguhan atas ketidakpedulian yang massif. Hal yang sejajar terlihat
juga dari karya Arsyad Indradi dalam Burinik (Kumpulan Puisi Bahasa Banjar
dengan Bahasa Indonesia-nya) terbitan KSSB Banjarbaru 2011, yang
menampilkan berbagai bentuk adat tradisi dan mitos dalam bentuk puisi bahasa
Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia.
Dalam Burinik, Arsyad Indradi seperti
ingin menegaskan bahwa banyak seni budaya Banjar yang tidak diperhatikan,
bahkan generasi belakangan sudah banyak yang tidak mengetahui lagi apa itu
Lamut, Badudus, Baahuy, Mamanda, dan lainnya. Sebagaimana digambarkannya pada setiap akhir puisi, seperti
dalam Badudus
(penganten)
dengan ungkapan, “Mudahan diingat turuntimurun kahada jua talupaakan”.
Juga mengenai mitos dan cerita-cerita yang berhubungan dengan lingkungan dan
alam sekitarnya, seperti dalam puisi Saekong Bekantan Bini yang ditamsilkan
sebagai “Sosok ibu yang teramat ibu”.
Melalui
puisi-puisi dalam bahasa Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia, Arsyad
Indradi yang dikenal sebagai Penyair Gila, berusaha maangkat batang tarandam
dengan upaya memindahkan sastra lisan ke sastra tulisan, karena saat ini sudah
mulai ada perubahan dalam sastra lisan tersebut menjadi sastra dalam bentuk
tulisan. Bahkan sebagian puisi-puisi dalam Burinik sengaja diberi notasi musik,
yang merupakan suatu pengalaman dengan kerinduan urang Banjar pada dendang
syair yang juga semakin tidak terdengar lagi. Dengan adanya notasi musik pada
puisi-puisi tersebut membuka peluang puisi menjadi hiburan bagi yang
mendengarnya, yang mendekatkan puisi pada telinga yang lebih mudah menerima
sastra lisan. Salah satu puisi yang ada notasi musiknya adalah Maangkat Batang
Tarandam yang lebih pada puisi penyemangat untuk bersama-sama menghidupkan seni
budaya Banjar, sekecil apapun itu.
Dengan
menyelipkan terjemahan dalam bahasa Indonesia, kumpulan puisi bahasa Banjar
Burinik ini, secara langsung diharapkan dapat membantu pembaca yang bukan
bahasa ibunya Banjar, sehingga dapat lebih menjangkau pembaca yang lebih luas.
Hal ini merupakan suatu peluang bagi orang luar dalam mengenal seni budaya
Banjar, yang dapat mendorong rasa ingin tahu dan perasaan yang lebih jauh dalam
membayangkan pola pikir orang Banjar. Karena melalui puisi-puisi ini sebagian
adat istiadat dan mitos di masyarakat Banjar tergambarkan dengan jelas, yang
selama ini lebih banyak terdengar dari penuturan lisan.
Seperti Lamut, yang hingga saat ini belum ada cerita yang
dilisankan Palamutan dalam bentuk tulisan atau buku sebagaimana naskah I La
Galigo, yang oleh Arsyad Indradi dicoba diketengahkan dalam penggalan cerita
dalam puisi Buah Sukma Biduri tentang istri Raden Kasan Mandi yang lagi
mengidam, dengan akhir puisi yang menyatakan keprihatinan, “Tarbang
mengalunngalun semakin ke ujung semakin menghilang/ … /Aku sudah tua/Aku
seoranganlah yang tertinggal tiada siapasiapa lagi/Jika tiada yang meneruskan
lamut bagaimana nasib senibudaya Banjar”. Hal ini begitu sejalan
dengan keprihatinan Sainul Hermawan tentang Lamut yang menjadikannya tertarik
untuk bahan desertasinya. Jika memperhatikan cerita dan segi naskah sungguh
panjang dan menarik untuk diteliti, karena dari cerita-cerita tersebut ada hal
yang tersembunyi dan dapat menjadi petunjuk tentang perjalanan panjang penghuni
tanah Banjar ini.
Di sini
menjadi penting untuk mengupayakan berbagai sastra lisan ke dalam bentuk bahan
bacaan, yang sebagiannya sudah mulai diperlihatkan Arsyad Indradi dan beberapa
tokoh lainnya, yang cenderung sebagai suatu bentuk keprihatinan dan
ketertarikan sendiri-sendiri saja. Sudah seharusnya hal ini diarahkan
menjadi kesadaran bersama-sama, dan tentunya harus dilakukan secara terencana
untuk mendokumentasikan semua sastra lisan, sehingga generasi belakangan dapat
menemukannya dalam perubahan budaya baca yang semakin meningkat saat ini dan
yang akan datang.
Jadi, melalui Kumpulan Puisi Bahasa Banjar Burinik sebenarnya
Arsyad Indradi ingin mengingatkan bahwa yang dimaksud batang tarandam
benar-benar ada, namun masih terlihat sebagai burinik-burinik, dan masih
merupakan cerita mulut ke mulut, belum dapat menunjukkan bahwa yang terendam
itu benar-benar seni budaya Banjar yang dimaksud. Di samping itu, sebagian
pihak masih disibukkan dengan burinik (riak), tanpa ada kepedulian yang
sungguh-sungguh untuk menyelam dan melihat langsung asal burinik
tersebut dan meangkatnya ke permukaan sebagai sesuatu seni budaya yang dapat
lestari dan menghibur tentunya. Mungkin pada suatu saat, kita dapat melihat
Arsyad Indradi mendendangkan puisi-puisi yang berisi seni budaya tersebut dalam
suatu tampilan, atau beliau dapat mengadaptasi Lamut dengan isi cerita berasal
dari puisi-puisi tersebut. Burinik, burinik, burinik … tentu ada sesuatu
di dasarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)







