Kamis, 30 April 2009

BUDAYA BANJAR : BAAYUN ANAK




BUDAYA BANJAR : BAAYUN ANAK

Adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ). Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi. Posisi bayi yang diayun ada yang dibaringkan dan ada pula posisi duduk dengan istilah dipukung. Mengayun anak ini ada yang mengayun biasa dan ada yang badundang. Mengayun biasa adalah mengayun dengan berayun lepas sedang mengayun badundang adalah mengayun dengan memegang tali ayunan. Yang lebih menarik adalah menidurkan anak ini sang ibu sambil bernyanyi, bernyanyi dengan suara merdu berayun-ayun atau mendayu-dayu. Lirik lagu ini sangat puitis. Liriknya seperti ini :

Guring – guring anakku guring
Guring diakan dalam pukungan
Anakku nang bungas lagi bauntung
Hidup baiman mati baiman

Catatan : Jika anaknya posisi berbaring lirik “ pukungan “ diganti dengan “ ayunan “.
Isi lirik ini adalah pujian anaknya yang cantik ( cakap ) dan doa agar anaknya kelak kuat imannya dalam agama sampai akhir hayatnya.
Seandainya anaknya masih rewel tidak juga mau tidur, biasanya sang ibu berkata : His ! cacak ! anakku jangan diganggu inya sudah guring.

Maayun anak ini terkadang sengaja diadakan pada acara Mauludan yakni tanggal 12 Rabiul Awwal. Dengan maksud agar mendapat berkah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Pada perkembangannya, maayun anak ini menjadi sebuah tradisi budaya yang setiap tahun digelar dengan istilah “ Baayun Maulud” Baayun Maulud ini sungguh berisi pesan-pesan religiusitas, filosofis dan local wisdom ( kearifan local ).
Baayun Maulud ini setiap tanggal 12 Rabiul Awwal yakni menyambut dan memperingati Maulud Rasul, oleh masyarakat Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara selalu mengadakan upacara Baayun Anak atau Baayun Maulud. Tradisi budaya ini mulai popular sejak tahun 1990-an.
Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga dari manula yakni nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar. Nazar ini karena sudah tercapai niat atau tujuannya seperti sudah kesampaian naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang dan panjang umur.***** Arsyad Indradi


5 komentar:

Meim mengatakan...

Kadang setelah kita jauh dari kampung halaman barulah terasa betapa indah sebuah tradisi budaya.

Mungkin itu yang ulun alami setelah 17 tahun lahir dan besar di bjm tapi tidak terlalu dekat dengan budaya banjar. Baru setelah 13 tahun di banua urang kembali dan langsung terlibat dengan beberapa perayaan yang kental tradisi banjar (tepatnya setelah bersuami orang Bjm juga, yang keluarganya memegang kuat tradisi banjar).

Bulan lalu putri pertama kami yang baru lahir dibuatkan perayaan "Baayun anak" di rumah mertua. Seumur hidup ulun baru pernah liat perayaan semacam itu, ternyata bagus banget...selain kelengkapan ayunan, juga lengkap dengan wadai banjar dan rombongan "terbang" yang menyanyikan shalawat.... :)

Alamsyah mengatakan...

mari kita lestarikan budaya urang banjar, kota kita dikenal dengan kota 1000 sungai tapi bukan itu saja kita punya 1000 budaya.........!!! "Haram manyarah waja sampai kaputing" sampai kapan pun kita lestarikan budaya kita.

@benyamin mengatakan...

ok,.lah...
banjar is the best..!!

zeno elea mengatakan...

sodaraku, sebenarnya saya mencari falsafah dan ajaran luhur tradisional Banjar disini. mohon informasinya, ini penting karena nilai tradisionalitas kita hari ini menurun digerus penjajahan cultural yang tak kenal ampun. seperti nilai filosofi dan keluhuran ajaran masyarakat Lampung, Toraja, Jawa, dsb. saat ini banyak dilupakan generasi kita. kita yang muda, harusnya yang menjaga. Think Globaly, Act Localy, menjemput Local Wisdom sebagai solusi kebobrokan nusantara. salam damai persaudaraan nusantara. salam 'alaikum, kulo nuwon....

flucca mengatakan...

aku pernah ngerekam mama ku waktu mengantarkan tidur ponakan... mungkin kaya gini ya?
https://soundcloud.com/fani_flucca/pengantar-tidur-by-mom