Kamis, 10 Juli 2008

Aku Merindukan Sastra Banjar “ Bakisah "

Teringat masa tahun 50-an sampai tahun 60-an ketika aku masih di Sekolah Rakyat ( Sekolah Dasar ), sangat senang menyaksikan Bakisah pada acara usai Panen Padi, Pengantin atau malam amal.

Walau pun agak jauh dari tempat tinggalku namun selalu kudatangi baik sendirian mau pun berkawan-kawan. Pada waktu itu Bakisah memang sangat populer di masyarakat Banjar. Banyak Pangisahan yang terampil membawakan kisah tapi aku yang masih ingat adalah Pangisahan yang bernama Guru Arfan.. Bakisah umumnya tidak memerlukan naskah. Baik pengantar kisah atau pun dialog-dialog dibawakan, mengandalkan keterampilan berimpropisasi. Tema-tema yang diangkat terkadang fiksi tetapi ada juga yang terjadi dalam masyarakat. Pangisahan manakala melakonkan tokoh-tokoh dalam kisah, penonton benar-benar larut dalam arus plot dan karakter sang tokoh. Bilamana adegan sedih, gembira, dendam, humor atau lainnya, penonton larut ke dalamnya. Tak ada satu pun penonton beranjak jika kisah belum tamat. Banyak sari toladan baik mengenai adat istiadat, etika estetika hidup, pendidikan, keagamaan, patriotisme yang terkandung dalam kisah. Kalau dibandingkan propertis ( hand dan setting ) dan lightingnya antara teater monolog, bakisah sangat sederhana dan bersahaja namun Pangisahan mampu menghidupkan suasana. Dalam Sastra Banjar, bakisah termasuk cerita tutur.

Sungguh aku sangat merindukan Bakisah. Sebab bakisah selama ini tidak pernah lagi dipertunjukkan di acara – acara usai panen, pengantin, atau pun acara perayaan lainnya, apa lagi di TV.

Aku bergumam sendiri adakah selain aku yang rindu “ bakisah “ wahai paduka yang ada di Disbudpar, Dewan Kesenian, Pemerintah Daerah, masyarakat Banjar ? Semoga***

( Arsyad Indradi )

1 komentar:

fazriansyah mengatakan...

ditahun 90an ada acara btanding kisah di RRI dan Pelataran Karindangan di Radio Nirwana,sayang semua kini hanya tinggal kenangan,padahal saya sangat senang dengan cara Paman Pani Dkk dalam membacakan kisah